Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2007

Waktu

Waktu tak pernah berhenti bergerak. Pada setiap detiknya ia terus berputar. Pada setiap menitnya ia terus meninggalkan. Pada setiap jamnya ia terus mengalir. Terus, terus dan terus. Dan kita?

Adakah waktu bagi kita merenung dalam-dalam? Mengingat kembali 365 hari dalam tahun kemarin yang telah kita lewati? Menghela nafas berat ketika teringat yang menyusahkan hati. Atau tersenyum dan tertawa mengenang kebahagiaan yang diperoleh. Sebuah introspeksi dan kontemplasi.

Atau memang tidak perlu direnungi karena yang sudah lewat adalah masa lalu yang tak akan pernah kembali? Karena waktu yang kita miliki hanyalah saat ini, bukan masa lalu apalagi masa depan? Bukankah waktu dan hidup itu mengalir laksana air? Untuk apa melihat ke masa lalu dimana banyak hal belum berubah sementara kita sedang terbawa hanyut arus perubahan? Kita yang harus berubah, bukan waktu dan hidup masa lalu.

Waktu itu tak berubah, ia sungguh tak berubah. Tapi ialah stagnansi yang terus mengusir kita bergerak meninggalkan masa lalu, sejarah, dan kenangan sentimentil. Ia yang tak berubah memaksa kita berubah untuk menyongsong harapan, kemajuan, kebahagiaan, perubahan dan sejenisnya.

Detik, menit dan jam akan terus bergerak setiap waktu. Ia adalah detik, menit dan jam yang sama dari waktu ke waktu. Jadi, masih perlukah mengucapkan selamat tahun baru?

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr 1~3)

Gambar bersumber dari sini.

Advertisements

Read Full Post »

Aidil Adha 1428H

Kamis pagi (untuk hari kerja Rabu) aku pulang lebih awal dari pabrik. Jam 6 teng aku sudah di pintu keluar menunggu van yang akan mengantar pulang ke apartemen. Ya, tentunya karena hari Kamis 20/Dec 2007 adalah bertepatan dengan 10 Dzulhijjah Hari Raya Aidil Adha 1428H, jadi aku pulang awal untuk siap-siap Shalat ‘Ied pagi harinya.

Mama Ani tidak bisa ikut, sedang kurang sehat. ADA juga tidak ikut, belum bangun dan tak bisa dibangunkan. Jadilah aku sendiri yang pergi ke surau Taman Nusa Perintis untuk shalat ‘Ied. Saat sampai di surau, sudah cukup banyak jamaah yang datang. Sama seperti saat Aidil Fitri 2 bulan lalu, wajah-wajah yang hadir nampak bisa dibedakan suku bangsanya. Ada yang dari Bangladesh, India, Indonesia dan tentu saja Malaysia sendiri. Namun semua adalah satu keyakinan, satu ukhuwah dan satu kebahagiaan dalam Islam.

Ketika Ustadz menyampaikan khutbahnya, hujan mulai turun. Tapi itu tidak menggangguku dalam mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah itu. Justru yang datang menganggu adalah rasa kantuk (setalah bekerja semalaman). Berkali-kali aku menguap dan berkali-kali pula aku memaksakan mata dan badan untuk tetap ‘hadir’ di dalam masjid. Aku bertakbir di dalam hati, “Alahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa illahaillallah huwallahuakbar… Allahu Akbar wa lillaailham…” Cukup ampuh mengusir kantukku!

Hujan ternyata makin menderas. Banyak jamaah yang tertahan tidak bisa pulang termasuk aku. Ternyata malah membawa berkah tersendiri; aku jadi mengetahui satu tradisi di Malaysia di saat hari Raya. Makan nasi ambang ramai-ramai! Aku jadi teringat kebiasaan yang sama di Payakumbuh setelah shalat hari Raya, bahkan cara penyajiannya pun sama. Nasi disajikan di atas nampan besar dengan lauk berupa ayam gulai, daging sapi dan sambal. Satu nampan ‘dikeroyok’ oleh 4~5 orang. Entah kebetulan entah bagaimana, di nampan yang kumakan, selain aku hanya ada 2 orang lelaki lain yang menghabiskan suguhan besar itu. Barangkali faktor dingin cuaca dan (tentu saja, hehehe…) perut yang lapar, nasi ambang satu nampan itu habis kami makan bertiga! Mudah-mudahan menjadi tabungan amal untuk yang telah mempersiapkan makanan lezat tersebut.

Setelah makan, hujan belum kunjung reda. Aku coba telpon ke pool taksi tak ada yang menerima, persis sama ketika Aidil Fitri! Aku dan Mama Ani kontak-kontakan gimana aku bisa pulang. Sambil menunggu, aku mengobrol dengan pengurus surau itu. Darinya aku dapat keterangan bahwa hewan qurban yang akan disembelih hari ini ada 8 ekor lembu! Cukup banyak menurutku untuk ukuran surau kecil dengan penduduk sekitar yang tidak banyak dan merupakan percampuran antar bangsa (Malay, Chinesse, India, dll). Ada keinginan untuk ikut membantu dalam acara pemotongan hewan quran, tapi mengingat kantuk dan Mama Ani yang sedang tidak sehat, akhirnya niat itu kuurungkan.

Setelah beberapa lama, akhirnya berhasil juga menghubungi sopir mobil van perusahaan dan memintanya menjemputku di surau. Dengan begitu sampailah aku kembali ke apartemen tanpa basah kehujanan. Selanjutnya tidak banyak yang bisa diceritakan karena sampai siang lewat sedikit aku tertidur lelap. Halah… hari Raya kok malah tidur, hehehe…!

Read Full Post »

Satu Tahun Mengenal ESQ

Desember tahun ini tepat satu tahun aku merasakan indahnya dunia bahagia spiritualitas ESQ. Dimulai sejak dari menjadi peserta training (angkatan 12 Batam), sebagai alumni, menjadi ATS, sampai ikut dalam kegiatan-kegiatan alumni ESQ di luar training. Senang dan bahagia rasanya berada di dalam kegiatan dimana hati, pikiran, dan badan bersatu bersama-sama.
Banyak manfaat yang sudah kudapat. Ilmu-ilmu 165 yang diajarkan telah membukakan hatiku selebar-lebarnya untuk menyadari siapa AllahAl Khooliq, siapa aku, untuk apa aku di dunia, dan hendak kemana aku akan pergi setelah kehidupan dunia. Pengalaman-pengalaman membahagiakan dan tak terlupakan sebagai ATS. Derai air mata dan senyum optimis kebahagiaan menghadapi apapun di dunia ini. Keikhlasan membantu tanpa keinginan mendapatkan balasan kecuali ridhaNya. Berjumpa sahabat-sahabat sejati. Perjalanan-perjalanan spiritual tinggi menembus batas pemikiran dan menukik dalam ke dasar hati. Banyak, sungguh banyak!
Dari pertama kali menjadi ATS di training angkatan 15 pada bulan Maret 2007, alhamdulillah aku tidak pernah absen membantu pelaksanaan training sampai angkatan 23 bulan Desember 2007 lalu. Segalanya dimudahkan oleh Allah Al Baari’ agar aku dapat hadir di ruangan training. Entah saat masih di Batam, pun jua ketika sudah bekerja di Johor Bahru, selalu ada waktu dan kesempatan yang diberikanNya untukku. Termasuk juga kemudahan ketika aku bisa mengikuti training lanjutan Mission Statement angkatan 2 Batam dan mengikutkan Mama Ani untuk juga dapat merasakan kebahagiaan spiritual ESQ.
Dan sebagai pengingat, bisa jadi iklan koran ini adalah kenang-kenangan paling indah bagaimana setahun yang lalu ia hadir untuk mengubah caraku memandang hidup!
Ada keinginan di hati yang sedang diupayakan untuk terwujud berkaitan dengan training ESQ dan keluarga. Mudah-mudahan secara perlahan akan bisa diwujudkan.

Read Full Post »

Kenapa Beda?

Kenapa ya display font, spasi, dll di sini setelah ditampilkan jadi berbeda dengan setting ketika ia ditulis? Masih malu nih lihatnya, berantakan banget.

Belajar terus… sampai bisa.

Read Full Post »

Undur-Undur Masa Kecil

Salah satu kenangan masa kecil yang masih melekat kuat di ingatanku adalah saat mencari dan bermain undur-undur. Umurku waktu itu aku masih sekitar 5~6 tahun, masih ingusan dan sedang senang-senangnya bermain-main. Makhluk kecil itu dahulu mudah kudapat di dekat kaki lumbung padi di bawah pohon jeruk bali samping kolam ikan mujair sebelah utara rumah gadang suku kami di Payakumbuh. Di tanahnya yang berpasir itu mudah sekali mengetahui keberadaan undur-undur karena bentuk sarangnya yang khas (berlubang seperti pusaran yang mengerucut ke bawah). Tinggal dicongkel saja dekat pusat lubang, maka akan nampak undur-undurnya, lalu ambil.

 

Mereka aku mainkan dengan meletakkan 2 atau 3 ekor di sebidang papan atau di lantai semen secara sejajar dan kulepas. Namanya balapan undur-undur. Sebuah balapan yang pesertanya tidak melesat maju ke depan tetapi malah bergerak mundur ke belakang! Seru abis! 🙂

 

Kenapa aku teringat undur-undur? Saat pulang ke Payakumbuh 3 minggu yang lalu, pagi itu aku berjalan sekeliling halaman rumah gadang kami. Banyak yang sudah berubah. Aku tidak menemukan lagi 5 kolam besar berisi ikan-ikan mujair, nila, mas, dan gurami ternakan. Aku ingat dengan jamban-jamban kayu di atasnya, dimana kalau ada orang yang buang hajat di sana, maka ikan-ikan di bawah akan berebutan memakannya. Aku juga tak menemukan lagi pohon durian, rambutan, jambu air, nangka, kelapa, pisang dan banyak lagi spesies tanaman lainnya. Dulu aku sering memanjati pohon-pohon itu dan memetik buahnya. Sekarang yang kujumpai adalah tanah yang rata, di atasnya ada kandang kuda, rumah-rumah kontrakan, bahkan bengkel motor. Di belakang bengkel itulah dulu lumbung padi tempat undur-undurku bersarang pernah ada.

 

Yang tersisa dari masa lalu itu dan masih ada sampai sekarang adalah kabut pagi. Waktu ternyata belum merubah kesetiaannya untuk datang. Walau tidak sepekat dulu, kabut pagi itu menunjukkan bahwa keasrian lingkungan rumah gadang kami masih tetap terjaga setelah puluhan tahun. Ya waktu memang cepat sekali berputar, ternyata sudah puluhan tahun masa itu berlalu. Mudah-mudahan kenangan indah akan masa itu tetap melekat di benak, tidak hilang secepat pudarnya kabut pagi ketika matahari menaik tinggi.

 

Note: Ketika sedang menulis ini dan mencari gambar undur-undur, aku malah baru tahu jika ternyata undur-undur adalah obat mujarab bagi penderita penyakit gula (Diabetes Melitus) !

Read Full Post »

Lihatlah Ke Bawah!

 

Karena bekerja shift malam, aku sekarang tahu jadwal buka tutup kantin di pabrik kami. Kalau sebelumnya ketika aku datang pukul 08.30 pagi dan ketika aku pulang pukul 21.00 kantin masih buka, maka kini aku tahu bahwa baru pukul 21.30 kantin tutup dan sudah buka lagi pukul 05.00 pagi. Jadi hanya terdapat jeda kosong selama 7 jam saja bagi pihak kantin untuk mempersiapkan segala sesuatunya menjelang kantin dibuka dan setelah kantin ditutup.

 

Mengingat pembicaraan dengan pelayan di kantin itu beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa semua masakan itu mereka juga yang mempersiapkannya, maka aku menghitung-hitung waktu kerja mereka adalah hampir 20 jam sehari dan waktu istirahat hanya sekitar 4 jam saja! Waktu kerja adalah dari pukul 04.30 pagi sampai 12.00 malam, dimana termasuk juga waktu untuk membereskan semua perlengkapan di kantin, lama waktu tempuh dari pabrik ke rumah (juga sebaliknya), waktu memasak makanan untuk hari berikutnya dan waktu untuk mempersiapkan makanan menjelang dibawa ke kantin lagi.

 

Untuk jam kerja yang begitu panjang, para pelayan itu hanya dibayar kurang dari RM500 (tidak sampai Rp. 1.325.000) sebulannya!

 

Aku bandingkan kondisi itu dengan diriku yang saat ini mulai mengeluhkan diri karena bekerja malam hari, jam kerja 12 jam sehari, tidak harus membanting tulang kerja keras, duduk di depan komputer, di ruangan ber-AC, bergaji jauh di atas mereka, dan saat ini sudah merencanakan untuk mengajukan permintaan ini itu kepada perusahaan. Tiba-tiba aku merasa kurang banyak bersyukur atas nikmat pekerjaan yang kumiliki saat ini. Tiba-tiba aku merasa betapa banyak maunya aku. Tiba-tiba aku merasa betapa sayangnya Allah padaku dan aku tidak melihat hal itu selama ini.

Astaghfirullah ‘aladzhiim…! Ya Allah, ampunilah aku yang jauh dari rasa syukur atas karuniaMu. Ampuni aku dari rasa sombong tidak melihat ke sekitar yang kondisinya lebih buruk dari keadaanku. Tundukkanlah hatiku untuk selalu menekuri jalan petunjukMu. Jangan butakan aku atas nikmat yang telah Engkau berikan, ya Rabbi. Ajari aku untuk selalu melihat cintaMu disekelilingku.

 

NB: Waktu-waktu yang disebutkan disini adalah waktu negara bagian Johor (satu jam lebih dahulu daripada WIB).

Read Full Post »

Resolusi 2008

Hiduplah dengan tujuan. Miliki visi. Jalani misi.

 

Tahun segera berganti, sudah waktunya mengevaluasi tahun berjalan dan mempersiapkan tujuan jangka pendek tahun depan. Dan inilah resolusiku di tahun 2008:

 

1. Religi: Rahasia berdua dengan sang Khooliq, ngga’ pantas orang lain tahu. Takut jadi riya’. Mudah-mudahan resolusi ini bisa mulai diwujudkan tahun ini. Do’akan saja.

 

2. Keluarga: Punya banyak waktu-waktu yang berkualitas dengan istri dan anak agar lebih bisa mengerti mereka. Lebih sering pulang kampung menjenguk Mama Miar yang makin sepuh. Berkumpul dengan adik-adik secara rutin.

 

3. Kesehatan: Kudu rutin berolahraga, renang 2x seminggu dan lari pagi sekali seminggu. Biar badan ngga’ makin hancur. Patokan gue tetap: perut ngga’ boleh lebih ‘tinggi’ dari dada dan ngga’ takut sakit pinggang (sebagai bukti bahwa masih punya pinggang! 🙂

 

4. Pekerjaan: Ngga’ pengen ambisius mengejar jabatan, yang sekarang sudah cukup. Tapi perlu meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk melompat ke negara yang kualitas etos kerjanya lebih kokoh.

 

5. Keuangan: Nabung untuk persiapan masa depan sang anak. Orangtuanya sudah cukup menikmati dunia, anak harapan semata wayang harus siap menghadapi dunianya nanti. Mengusahakan pendidikan terbaik baginya.

 

6. Persahabatan: Teman baru penting, tapi menjaga silaturahmi dengan teman-teman lama juga tak kalah pentingnya. Pengen reuni dengan teman-teman di SD, SMP, SMA dan kampus dulu.

 

7. Blogging: Makin rajin menulis dan merawat blog-blog yang udah ada. Kalau bisa, punya blog yang ramai dikunjungi orang. Jika dibilang narsis, ah… biarkan saja! Toh awalnya nge-blog buatku adalah untuk ninggalin jejak bagi anak cucu.

 

8. Buku: Minimal satu buku baru sebulan. Sekalian mau bikin lemari buku baru lagi.

Read Full Post »

Older Posts »