Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Suara hati’ Category

Sudah lamaaaaa sekali aku tidak menulis di blog ini. Pertama tentunya karena kehilangan akses internet di kantor itu. Terus karena kesibukan kerja yang tidak memungkinkan membagi waktu berlama-lama di depan komputer dan menulis. Lalu juga belum ada bahan yang pas untuk dituliskan ke blog ini. Terus…

Ah, kau mencari alasan, anak muda! Terutama yang terakhir itu.

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupanku akhir-akhir ini yang sebenarnya bisa memicu ide tulisan. Entah itu pengalaman manis, peristiwa asem, kejadian asin, (kayak permen yang ramai rasanya itu!). Hal-hal baru yang kutemukan dalam alur kehidupan, yang layak dijadikan bahan tulisan.

Tapi, ya itu tadi, kok tidak ditulis?

Males.

Terus, kapan mau menulis yang berarti lagi sini?

Sabar dulu ya. Biarkan kepala ini (dan otaknya itu) beradaptasi dengan keinginan hati untuk menulis, agar mereka sinkron. Biar mereka saling bersilaturahmi dulu, agar tahu sama tahu apa yang diinginkan dan akan dikerjakan.

Jadi, tunggu dengan sabar ya…?! 🙂

Advertisements

Read Full Post »

Halah! Budaya apa yang dibawa infotainment itu ke dalam rumah kita? Menyuruh orang berzina terang-terangan atas nama hari kasih sayang (prek, cuih!)? Mengindoktrinasi masyarakat dengan kebiasaan yang tabu? Membiasakan hal yang seharusnya terdengar di ranah personal menjadi konsumsi publik?

Pulang kerja malam udah kesiangan, aku sedang mengambil handuk hendak mandi saat telinga mendengar kata-kata pembawa acara infotainment (tak usah disebut nama dan acaranya, no point!) yang terasa sangat keterlaluan untukku. Dengan lantang dan suara ditegas-tegaskan, ia mengatakan, “Pemirsa, apa saja yang dilakukan para selebrita kita dalam menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya? Bagaimana mereka menyikapi bentuk ungkapan kasih sayang yang diberikan kepada mereka dari pasangannya masing-masing? Apakah hari raya kasih sayang ini akan menjadi momentum… bla-bla-bla

Sungguh keterlaluan! Itu pembawa acara atau si script writer punya otak ngga’ untuk membawakan atau menuliskan kata-kata itu? Siapa dia berani-beraninya menasbihkan 14 Februari sebagai hari raya? Sejak kapan orang merayakannya? Siapa yang merayakan? Apa yang harus dirayakan?

Aku misuh-misuh. Mama Ani bilang semua infotainment sibuk menayangkan berita dengan topik yang sama: perayaan hari kasih sayang. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dan mungkin sampai beberapa hari ke depan, acara infotainment terus membahas apa dan bagaimana para selebrita menghadapi hari yang katanya untuk menunjukkan kasih sayang itu! Apa tidak pekak telinga dengan serbuan berita-berita itu? Apa tidak membanjiri pikiran dan membentuk kesan jika itu terus menerus disampaikan? Apa tidak akan menjadikan sesuatu yang tabu menjadi hal yang biasa-biasa saja? Penciptaan budaya zina di tengah masyarakat!

Damn! Semakin benci dengan acara TV Indonesia. Tak ada yang bermutu, sampah, sampah, dan sampah!

Read Full Post »

Kenali Diri

Di awal tahun paling baik mengenal diri sendiri sebagai landasan mengawali semua rencana, target atau resolusi yang akan dikerjakan. Pribadi kita saat ini mungkin bukanlah pribadi kita yang sama seperti tahun lalu. Satu tahun jelas masa yang cukup panjang untuk perubahan diri, karena itu perlu ‘mengenali diri kembali’. Ada banyak cara, antara lain seperti jalur cepat yang kulakukan ini.

Apapun hasilnya, baik juga untuk mencoba test ini. Apakah percaya atau tidak, tergantung bagaimana kita memaknainya. Ini hasil testku:

Click to view my Personality Profile page
Berdasarkan hasil di atas aku termasuk tipe ISTJ – The Examiner. Setelah dibaca-baca, ternyata (mengikut bahasa gaul anak muda sekarang) ‘gue banget’ memang! 🙂
Untuk lebih jelas apa itu ISTJ – The Examiner silakan ke sini. Ada yang tertarik untuk mencoba?

Note: bikin posting ini ikut-ikutan setelah dapat link di padepokannya pak BR

Read Full Post »

Resolusi 2008

Hiduplah dengan tujuan. Miliki visi. Jalani misi.

 

Tahun segera berganti, sudah waktunya mengevaluasi tahun berjalan dan mempersiapkan tujuan jangka pendek tahun depan. Dan inilah resolusiku di tahun 2008:

 

1. Religi: Rahasia berdua dengan sang Khooliq, ngga’ pantas orang lain tahu. Takut jadi riya’. Mudah-mudahan resolusi ini bisa mulai diwujudkan tahun ini. Do’akan saja.

 

2. Keluarga: Punya banyak waktu-waktu yang berkualitas dengan istri dan anak agar lebih bisa mengerti mereka. Lebih sering pulang kampung menjenguk Mama Miar yang makin sepuh. Berkumpul dengan adik-adik secara rutin.

 

3. Kesehatan: Kudu rutin berolahraga, renang 2x seminggu dan lari pagi sekali seminggu. Biar badan ngga’ makin hancur. Patokan gue tetap: perut ngga’ boleh lebih ‘tinggi’ dari dada dan ngga’ takut sakit pinggang (sebagai bukti bahwa masih punya pinggang! 🙂

 

4. Pekerjaan: Ngga’ pengen ambisius mengejar jabatan, yang sekarang sudah cukup. Tapi perlu meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk melompat ke negara yang kualitas etos kerjanya lebih kokoh.

 

5. Keuangan: Nabung untuk persiapan masa depan sang anak. Orangtuanya sudah cukup menikmati dunia, anak harapan semata wayang harus siap menghadapi dunianya nanti. Mengusahakan pendidikan terbaik baginya.

 

6. Persahabatan: Teman baru penting, tapi menjaga silaturahmi dengan teman-teman lama juga tak kalah pentingnya. Pengen reuni dengan teman-teman di SD, SMP, SMA dan kampus dulu.

 

7. Blogging: Makin rajin menulis dan merawat blog-blog yang udah ada. Kalau bisa, punya blog yang ramai dikunjungi orang. Jika dibilang narsis, ah… biarkan saja! Toh awalnya nge-blog buatku adalah untuk ninggalin jejak bagi anak cucu.

 

8. Buku: Minimal satu buku baru sebulan. Sekalian mau bikin lemari buku baru lagi.

Read Full Post »

Di ferry saat menyeberang dari Batam ke Singapore sore tadi, aku merasakan gemuruh yang hebat di dada dan air mata bergulir membaca pengalaman spiritual salah seorang alumni ESQ di majalah Nebula edisi Desember 07 tentang perjalanan ibadah hajinya. Sesak terasa di dada menahan gemuruh keinginan untuk dapat merasakan pengalaman yang sama. Merebak air mata ini menggelorakan kerinduan teramat dalam untuk bisa bersujud di Ka’bah, di bangunan lambang cinta tertinggi manusia kepada Allah. Tak terperi rasanya menahan kuatnya daya hisap magnet spiritual itu ke hatiku.

Lambang Cinta

Aku sangat, sangat ingin ke Mekkah, ke Baitullah!

Panggil aku, ya Allah! Izinkan aku bertamu ke rumahMu. Mudahkan jalanku melangkahkan kaki ke Baitullah. Undang aku ya Allah, undang aku…!

Untuk Mama Miar tercinta yang sedang melaksanakan ibadah haji untuk kali kedua tahun ini, do’akan kami anak-anak Mama untuk mendapatkan panggilan Allah dan merasakan nikmat yang Mama dan Emil pernah rasakan itu.

Read Full Post »