Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2008

2 minggu lebih aku tidak menulis apa-apa di sini. Bagi yang ingin tahu kenapa, silakan ke sini untuk mendapatkan jawabannya.

Sebenarnya bukan berhenti menulis, karena aku tetap menulis kok. Hanya saja tidak terlihat segencar/sebanyak ketika hanya punya satu blog seperti dulu. Kan sekarang sudah dipisah-pisah sesuai tema tulisan yang dibuat. Kalau mau jalan-jalan, silakan ke blogroll di sebelah kanan dan klik saja blog-blogku itu. Di tiap blog ada tulisan baru juga (sesuai tema blog), meski tidak setiap hari diperbaharuinya.

Jadi kalau di sini lama tidak ada tulisan baru, Anda tahu kemana hendak mencari tulisan terbaruku ‘kan? Monggo… 🙂

*kembali ke alam pengasahan diri*

Advertisements

Read Full Post »

Membentak Polisi

Di negeri ini, aku sudah melihat bahwa warga bangsaku dipandang sebelah mata. Disebut dengan panggilan menghina ‘orang Indon’, disetarakan dengan warga dari negara Bangladesh, (yang dipanggil Bangla), warga kelas rendahan, kaum budak pekerja, gerombolan kriminal atau orang bodoh tak berbudaya. Entah kesalahannya bermula dari apa, bila dan bagaimana, tapi ia sudah berurat berakar sejak lama. Karena itu sering muncul perlakuan diskriminatif terhadap warga negara kita, bahkan untuk persoalan yang sebenarnya sederhana. Kuakui memang tak semua mereka memandang seperti itu, tapi tetap saja ini menjadi sesuatu yang mengganjal dan perlu dirubah.

Aku juga sudah belajar bahwa satu cara menghadapinya adalah dengan menunjukkan bahwa orang Indonesia itu pintar, bisa menduduki posisi/jabatan tinggi, berperilaku baik dan berpenghasilan tinggi. Maaf, penghasilan tinggi juga disebut sebagai tolak ukur bagi mereka dalam menilai karena memang karakteristik melayu yang cenderung malas, ingin yang mudah, tapi berhasil banyak ini cukup menonjol kulihat. Jika salah satu dari empat hal itu dimiliki, maka mereka menjadi lebih hormat dan bersahabat. Apalagi jika memiliki lebih.

Pintar di sini antara lain penguasaan bahasa asing, terutama Inggris. Orang sini banyak yang bisa berbahasa Inggris (karena bersekolah di luar negeri seperti Inggris, Japan, atau Australia), tapi jauh lebih banyak lagi yang tidak bisa. Dan seperti kebanyakan melayu, mereka menjadi minder bahkan ciut di hadapan orang yang bisa. Jadi bercas-cis-cus-lah di hadapan orang melayu sini, maka kita akan berada di ‘atas angin’.

Beberapa pengalamanku membuktikan hal itu. Menghadapi persoalan di pintu imigrasi Malaysia kuselesaikan dengan berbicara dalam bahasa Inggris dengan petugasnya yang tergagap-gagap melayani. Pencarian dan negosiasi harga sewa rumah menjadi lebih mudah dengan agen/pemilik rumah dimana penggunaan bahasa Inggris membuat posisi tawarku lebih baik. Bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan membuat kita lebih dianggap bahkan dibantu. Dan masih banyak contoh-contoh peristiwa lainnya yang kualami.

Tapi satu yang mungkin paling lucu adalah peristiwa hari Minggu kemarin. Aku dan keluarga menumpang bus kota Gelang Patah ~ Terminal Larkin, naik di terminal Gelang Patah. Ketika bus berhenti di halte depan dealer Honda, seorang gadis calon penumpang (satu dari beberapa orang yang baru menaiki bus) mengaku kehilangan dompetnya dan tak bisa membayar ongkos bus. Oleh si sopir ia ditanyai macam-macam, ia naik turun bus mencari-cari, sopir bolak-balik ke bagian dalam bus melihat-lihat, sehingga bus lama tak bergerak dari halte tersebut. Tak sabar menunggu, aku meminta agar si sopir tidak melayani dan menjalankan tugasnya mengemudikan bus. Kulihat mereka masih berbicara beberapa waktu sampai kemudian bus berjalan kembali.

Sampai di Lima Kedai (4 km dari Gelang Patah), sopir membawa bus ke kantor polisi! Tentu saja para penumpang menjadi bertanya-tanya, ada apa lagi? Ternyata si sopir yang ‘baik hati’ itu mengantar si gadis melaporkan peristiwa kehilangan dompet tadi ke kantor polisi terdekat. Bukannya sekedar mengantarkan sampai di situ saja, ia kemudian membiarkan polisi menyelesaikan persoalan itu di atas bus! Padahal kami para penumpang sudah mulai resah karena terhambat perjalanannya. Si bapak Polisi bertanya-tanya sebentar pada si gadis, sopir, dan pada seorang penumpang laki-laki yang sedari tadi mengobrol dengan sopir di depan. Kemudian dengan lantangnya si pak polisi berkumis tebal tadi mengumumkan bahwa ia akan memeriksa seluruh penumpang dan barang bawaan jika tidak ada yang mengembalikan atau mengakui mengambil dompet si gadis tersebut. Dan jika ia menemukan pelakunya, maka akan langsung dimasukkan ke dalam sel tahanan.

What the hell… pikirku. Untuk apa polisi memeriksa para penumpang yang jelas-jelas tak bersalah itu? Bukankah si gadis itu sudah kehilangan dompetnya sebelum menaiki bus? Kenapa ia tidak bertanya terlebih dahulu bagaimana kronologis peristiwa kehilangan itu? Kenapa mencurigai penumpang yang lain? Untuk apa membuang-buang waktu memeriksa begitu banyak penumpang dan barang? Berapa lama waktu akan terbuang hanya untuk mencari dompet yang jelas-jelas tidak berada di atas bus tersebut?

Ya sudah, naik pitamlah aku dengan cerdasnya. Mewakili para penumpang lain, aku memprotes tindakannya itu. “Hello Sir! Why don’t you ask the girl how she lost her wallet? Do you know when she lost it? Ask her when she realize the wallet was not with her anymore? How could you suspect that one of these passengers is the thief? It doesn’t make sense to me that you are going to search here while you alone are still not clear with the situation! That girl lost her wallet before she step into the bus! Do you realize it? Hey hello…. don’t waste these peoples time for such of silly investigastion! I’ll tell you now what to do, OK? You bring the girl out of this bus, ask her questions, do your investigastion or whatever you want to do. While you’ll doing that, this bus can continue the trip peacefully. OK? Do you get my points? Bring her down… bring her down!”

Si polisi berkumis tebal langsung ciut. Ia memandangku bingung. Rentetan kalimatku yang bernada sengit dan dalam bahasa yang tak dimengertinya ternyata menghilangkan rasa percaya dirinya yang tadi begitu gagah di hadapan puluhan penumpang bus. Ia, sopir dan kawan si sopir kemudian berbisik-bisik bertiga. Mama Ani sempat mendengar si polisi bertanya “Dia cakap apa tadi?” kepada kawan si sopir sambil melirikku. Sebentar kemudian si polisi menanya-nanyai si gadis lagi dan itu memancingku untuk memprotes kembali.

Hello… can you question her in your office? Don’t do it here! We need to go. You waste people’s time, you know? Go down… go down…!” sambil tanganku mengusir-usir mereka turun dari bus. Si polisi memandangku, masih dengan ekspresi tak mengerti tadi, dan akhirnya menyerah. Ia ajak si gadis turun dan berbicara pada sopir untuk meninggalkan ia di situ. Begitulah kemudian bus akhirnya bisa berjalan kembali.

Ternyata hanya dengan beberapa patah kalimat berbahasa Inggris ngawur saja, orang sini langsung minder dan ‘berkerut’. Berhadapan dengan orang berbahasa asing membuat seorang polisi garang pun kehilangan nyali, meski kami sama-sama berwajah melayunya! Hahahaha… dan ah kapan lagi punya kesempatan membentak polisi sini! 😉

Jadi agar tidak dipandang sebelah mata di tanah seberang ini, berbicaralah dengan bahasa Inggris untuk menunjukkan siapa dan bagaimana kualitas Anda. Itu salah satu kuncinya agar Anda lebih dihormati!

Read Full Post »