Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sekitar’ Category

2 kasus bunuh diri di pusat keramaian itu menarik perhatian. Juga satu kasus yang terjadi di tanah suci. Serta satunya lagi di daerah. Nyaris pada waktu yang sama. Ada apa? Trend barukah? Hih… *bergidik*

Ah, saya bukan psikolog seperti seorang teman saya yang udah berkelas seleb itu. Jadi saya tidak akan berurai-urai membahas kenapa-kenapanya. Juga bukan ahli agama yang bisa berkhotbah berpanjang berlebar untuk itu. Jadi jangan tanya hadist atau surat atau ayat ke saya karena yang saya tahu cuma sebatas bahwa bunuh diri itu dosa besar dan pasti masuk neraka.

Cara orang menghentikan kehidupannya ada banyak. Mulai dari yang bersendiri menggantung leher, menenggak racun, memutuskan urat nadi, terjun dari ketinggian, menabrakkan diri, membakar diri, sampai ke russian rollet, dan sebagainya dengan setiap cara juga memiliki keunikan variasi sendiri-sendiri. Atau secara bersama-sama mengikuti ajaran aliran sesat tertentu atau dengan maksud tertentu.

Dari sisi ini, sebenarnya pelaku bunuh diri adalah orang-orang yang kreatif, selalu menemukan cara untuk memutuskan hubungannya dengan dunia. Dan ketidaktercegahannya adalah bukti kreativitas itu.

Proses membuat keputusan besar itu jelas tidak singkat. Mereka jelas telah mempertimbangkannya lama. Barangkali juga diiringi oleh rasa takut dan kengerian. Serta juga kesedihan, mungkin. Apapun, keputusan tetap dibuat dan dilaksanakan dengan tekad kuat.

Bukankah dengan demikian sebenarnya pelaku bunuh diri adalah juga para pemberani dan pembuat keputusan yang tegas serta teguh dengan pendirian mereka?

Saya yakin Saudara akan senang kalau saya ajak jalan-jalan ke jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Jembatan ini sangatlah menarik arsitekturnya dan terkenal di seluruh dunia. Ia adalah ikon kebanggaan dan landmark kota San Fransisco bahkan juga Amerika. Tapi tahukah Saudara bahwa Golden Gate adalah tempat favorit orang Amerika untuk bunuh diri? Setiap 2 minggu ada 1 orang yang mengakhiri hidupnya dengan menerjunkan diri di sana. Atau Saudara saya ajak ke air terjun Niagara, tebing The Gap di Australia, hutan Aokigahara di Jepang, kota judi Las Vegas, atau ke pantai Beachy Head di Inggris. Bukan untuk bersenang-senang tentunya, karena itu adalah tempat-tempat yang disukai oleh orang di sana untuk mengakhiri hidup. Masih mau? 😉

Nah, ternyata lokasi favorit tempat melaksanakan niat bunuh diri ternyata adalah tempat-tempat yang indah dan menarik. Bukankah berarti bahwa rasa senang pada keindahan masih ada di pikiran mereka, paling tidak untuk dilihat terakhir kalinya?

Di Indonesia mudah-mudahan saja tidak ada trend begitu. Baik tempat, cara, atau penyebab. Atau sudah mengarah ke sana juga?

Terakhir, meniru kalimat yang ngetrend di ranah hukum, bunuh diri adalah tindakan yang bisa dikenai pasal penyalahgunaan wewenang. Wewenangnya siapa? Wewenang malaikat dong! Memangnya pasal itu bisa diterapkan? Bisa! Saudara bisa ditangkap oleh sembarang penyebab karena pasal itu adalah pasal karet yang dapat ditarik seluas-luasnya, sejauh-jauhnya, sebesar-besarnya, dan sesuka-sukanya manusia yang menerapkan pasal tersebut. Tapi sekali lagi, itu kalo ketangkap manusia lho. Makanya pelaku bunuh diri, seperti juga korupsi di negeri ini, tenang-tenang saja. Silakan saja tangkap, orangnya udah mati (rasa) ini! Bukan wewenang hukum dunia yang bisa menangkap, karena yang diselewengkan dan dilangkahi adalah hukum Tuhan. Jadi pasrahkan saja pada Tuhan untuk menentukan apa yang pantas bagi mereka. Okay?

Advertisements

Read Full Post »

Kambing Pak Umar

Siang November yang terik. Lalu lalang kendaraan yang melewati halte tanpa atap itu menyebabkan debu-debu terangkat naik dan menyebar. Beberapa orang yang berdiri di situ menutup mulut dan hidungnya untuk menepis debu. Sebagian yang lain tidak peduli. Malah membuka mulutnya untuk menimpali obrolan temannya yang sedang menceritakan sesuatu. Sementara seseorang tengah asyik mengelap sepeda motornya. Ada beberapa sepeda motor juga sedang diparkir di sana. Menunggu penumpang. Seperti di banyak tempat, halte itu adalah juga pangkalan ojek.

Dari seberang jalan, aku melambaikan tangan. Salah seorang di sana menanggapi dengan mengangkat tangannya dan kemudian berpaling ke sebuah papan. Lalu ia bangkit dan menepuk pundak temannya. Sepertinya giliran mengangkut penumpang berikutnya ada pada orang tersebut. Tubuhnya kecil dan nampak sudah tua. Kuamati ia menuntun sepeda motornya keluar dari halte dan bergerak ke arahku. Kulihat seperti ada yang salah dari caranya membawa motor, agak goyah.

Kantor Pos Juanda, Pak!” kataku padanya menyebutkan tujuan. Panggilan ‘Pak’ atasnya adalah setelah aku melihat kerut-kerut di wajah dan tangannya, pertanda usia yang telah jauh berjalan. Dari balik kaca helm yang diberikannya, aku melihat bapak pengojek ini mengangguk mengerti. Kamipun berangkat.

Baru saja jalan beberapa puluh meter aku sudah merasa tidak nyaman diboncengi. Sepeda motor berjalan tidak stabil, goyah seperti orang yang baru belajar berkendara. Kemudian karena si bapak mengambil jalan agak ke tengah padahal jalanan sedang ramai sehingga membahayakan. Lagipula gigi yang dipakai tidak sesuai dengan kecepatan kendaraan sehingga jalannya motor kadang tersendat-sendat atau malahan mesin menggerung terlalu tinggi.

Pelan kutepuk pundak si bapak, “Pak, motornya kenapa? Kok jalannya begini?” tanyaku. “Ngga’ apa-apa, Nak. Kita ke tepi dulu ya” katanya menepikan kendaraan. Keningku berkerut bertanya-tanya. Tidak apa-apa kok jalannya ngga’ benar, lalu tiba-tiba minta menepi, ada apa? Sesampainya di pinggir jalan, aku turun dari boncengan dan berdiri di samping si bapak.

Anak saja yang bawa motornya, saya di belakang saja” pinta si bapak, “saya belum biasa memakai motor ini.” Gubrak… tukang ojek kok ngga’ biasa bawa motor?! pikirku. Masa penumpang yang boncengin tukang ojeknya? Aneh banget ‘kan? Namun demi mengingat keperluan ke kantor pos dan ingin tahu bagaimana kisahnya si bapak ini, aku bersedia bertukar tempat. Lagipula kemudian aku juga memikirkan keselamatan si bapak saat kembali ke pangkalannya yang tak jauh dari kantorku yang harus melewati jalan dan perempatan yang ramai, aku berniat untuk memboncengkannya kembali. Toh tujuanku keluar kantor hari ini memang hanya ke kantor pos, tidak kemana-mana lagi.

Singkat cerita, di saat menunggu antrian pembayaran kantor pos yang cukup panjang, aku berbincang-bincang dengan pak Umar, bapak pengojek tadi. Kubelikan teh botol dingin untuknya dan sebotol air mineral untukku sendiri sebagai pelepas dahaga di siang yang terik itu.

Saya baru hari ini mengojek, Nak. Sepedanya juga dapat minjam dari tetangga sebelah.” Pak Umar berkata sambil melepas jaketnya. Kuperhatikan baju kaus yang dipakainya sudah tak jelas warnanya, mungkin dulunya hijau yang makin lama makin memudar setelah sekian tahun dipakai. Celana kain yang dipakainya juga sudah tua. Dengan sandal jepit bertali biru menghiasi kakinya, potret pak Umar yang tua, miskin dan kenyang dengan kerasnya jalan hidup yang dijalani nampak makin sempurna.

Sebelumnya bapak kerja apa?” tanyaku sambil menghela nafas, kasihan pada sosoknya, “berbahaya lho pak menjadi tukang ojek kalau bapak tidak menguasai motor dengan baik. Bapak bisa celaka di jalan raya.

Anak benar. Sebetulnya saya ini biasa jaga warung saja di rumah, dengan istri. Tapi saya sudah berniat, jadi saya akan cukupi dengan menjadi tukang ojek” pak Umar berkata sambil duduk di tembok pembatas teras kantor pos. Dari teras luar ini aku bisa melihat nomor antrian berapa yang sedang dilayani sekarang. Nomor antrianku masih lama, jadi aman-aman saja kalau kami menunggu di luar.

Niat apa, Pak?

Ya cari duit, buat nambahin beli kambing. Saya berniat qurban tahun ini, Nak.”

Kalau belum cukup ‘kan ngga’ apa-apa ngga’ ikut qurban, Pak” kataku.

“Kalau ngga’ diniatin ya begitu-begitu terus, Nak. Ngga’ bakalan pernah bisa berqurban. Tiap tahun saya menghibur diri dengan apa yang barusan Anak katakan. Sampai sekarang, ngga’ pernah terlaksana. Duit yang saya simpan-simpan setiap hari, habis saja dipakai. Buat makanlah, buat bayar sekolah anaklah, macam-macam pokoknya… Akhirnya ya tetap aja ngga’ kebeli kambing!

Terus Bapak ngojek buat beli kambing itu?

Buat tambahannya. 3 hari yang lalu Bapak sudah melihat-lihat di tempat penjualan hewan qurban, ternyata duit yang selama ini Bapak sisihin dari keuntungan warung tiap hari belum cukup. Makanya Bapak ngojek. Kebetulan tetangga Bapak ngijinin motornya dipinjam, asalkan dijaga baik-baik.” jawab Pak Umar sambil kembali menyedot teh botolnya.

Oh begitu. Maaf kalau boleh tahu, memangnya kurang berapa lagi Pak?

Dua ratus ribu lagi. Tapi susah nyari duit sebanyak itu sekarang. Apalagi waktu qurban sudah semakin dekat. Bapak tidak akan bisa berqurban lagi tahun ini…” jawabnya lirih sambil menundukkan kepala. Nampaknya ia menyesal sekali tidak akan dapat menunaikan niatnya. “Saya sudah tua, waktu saya di dunia ini mungkin tak lama lagi. Saya ingin sekali bisa berqurban. Sekali saja seumur hidup juga tak apa-apa asalkan saya pernah. Kelak nanti saya bisa jawab ketika malaikat bertanya apakah saya pernah berqurban atau tidak. Saya ingin pintu-pintu rahmat terbuka luas bagi saya dan keluarga. Saya ingin dido’akan..…” kalimat pak Umar terputus, suaranya tercekat.

Aku tercenung. Begitu besarnya keinginan pak Umar ini untuk berqurban, sampai-sampai ia siap menghadapi resiko mencari tambahan uang dengan mengojek, yang sama sekali belum pernah ia jalani.

Pada setiap tanduk, kaki atau potongan tubuhnya, akan ada pembelaan atas dosa-dosa kita, Nak. Pada setiap helai bulu hewan yang kita qurbankan, akan ada kesaksian atas keikhlasan kita. Pada tetesan darahnya akan ada pengakuan atas ketaqwaan kita. Besar sekali pahala berqurban itu, besar sekali….” Pak Umar semakin kehilangan kata-katanya.

Dan aku pun ikut kehilangan kata-kata. Untuk bersedekah biasa saja tidak terpikir olehku, apalagi berqurban. Padahal gajiku jelas-jelas cukup untuk membeli seekor kambing tanpa harus mengorbankan berbagai kebutuhanku yang lainnya. Jika diniatkan, aku bahkan sanggup berqurban sapi kalau tiap bulan uangku disisihkan selama satu tahun. Tapi tak pernah ada bersitan niat itu di pikiranku. Sungguh berbeda dengan pak Umar yang rela menyisihkan penghasilan warungnya yang sedikit itu demi bisa berqurban. Bahkan mengambil resiko menjadi tukang ojek agar dapat mencukupi kekurangannya. Benar-benar kontradiksi yang menjungkirbalikkan pemikiranku atas nilai-nilai penting dalam kehidupan dan tingkat keyakinan spiritualitas.

Sepulang mengantar pak Umar ke warungnya, mataku berkaca-kaca. Bahkan dengan kondisi rumah dan warung yang begitu sederhana, hati pak Umar bagaikan berlian yang berkilau di tengah himpitan kesulitan-kesulitan hidupnya. Ia masih mau berqurban dan memikirkan saudara-saudaranya yang lain yang lebih menderita dibandingkan untuk mencukupi dirinya sendiri. Maka apalah artinya sejumlah uang yang kuraih seasalnya dari dompetku, yang membuat tangan dan bibirnya bergetar  dan matanya berkaca-kaca itu. Masih terngiang di telingaku kata-kata pak Umar pada istrinya saat aku melangkah pergi, “Alhamdulillah buk, kita bisa berqurban tahun ini! Alhamdulillah… terima kasih ya Allah…!

Read Full Post »

Sampah Tidak Biasa

Barangkali karena sudah sedemikian seringnya terjadi dan capek mengingatkan, pemilik rumah ini membuat pengumuman besar-besar di ATAP rumahnya. Atap

(Untuk yang kurang jelas membacanya, maaf photo ini diambil hanya dengan kamera handphone dari balik kaca, di atap itu tertulis: DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. ROKOK, CD, BH, DLL).

Sepertinya cukup efektif karena pada saat gambar ini diambil tidak nampak sampah-sampah yang dimaksud di atap rumah tersebut.

Yang menggelitik adalah jenis sampah yang ditulis cukup spesifik. Banyak yang membuang  CD (celana dalam) dan BH (bra perempuan) ke atas atap tersebut ternyata! Jenis sampah yang  memang tidak biasa. Dan kenapa dibuangnya ke atap rumah? Lalu sampah apa kira-kira yang dimaksud oleh si pemilik rumah dengan DLL (dan lain-lain)? 😉

Catatan: gambar diambil dari lantai 3 hotel XXXXX  yang berlantai 12 di kota Samarinda, Kalimantan Timur akhir minggu lalu.

*Anda sudah menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas? ;)*

Read Full Post »

Saya tak tahu dengan orang lain, tapi bagi saya pemandangan seperti ini terasa mengganggu. Bukan tidak menghormati orang-orang terhormat calon wakil rakyat yang memajang gambarnya di sana, karena tak ada maksud untuk itu. Hanya saja bagi saya, jejeran gambar itu tidak indah. Sungguh tidak indah.

pamflet-caleg

Tak adakah cara berkampanye yang lebih baik dari sistem tradisional ini? Saya kok tiba-tiba membandingkan ini dengan cara kampanye kuno ala Romawi beribu tahun lalu ya? Ah, lupakan saja…

Tidak indah ya tetap tidak indah bagi saya, titik!

Note:  Gambar diambil saat melewati simpang Panbil Muka Kuning, Batam.

Read Full Post »

Pak De

Aku tak tahu nama ataupun umurnya. Biasanya kusapa ia dengan panggilan Pak De sebagai penghormatan atas usianya yang lebih tua dariku. Perkiraanku, ia sekitar 60 tahun lebih. Kerut-kerut di wajahnya mungkin mengelabui usianya yang sebenarnya, jadi angka umur yang kusebutkan bisa saja lebih kecil atau lebih besar. Yang jelas kerasnya kehidupan yang ia jalani terpatri kuat di tubuh kecilnya yang ringkih. Seolah seluruh beban hidup itu telah meluluhlantakkan semua keperkasaan masa mudanya.

Pak De bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah agensi kontraktor di wilayah Johor Bahru. Ia bekerja di lokasi dimana agensinya sedang memiliki proyek. Dimana dibutuhkan, ke sanalah ia diberangkatkan. Kalau sedang sepi kerjaan, ia tak pergi bekerja (yang berarti tak ada penghasilan). Pak De tinggal di salah satu unit apartemen milik bossnya di blok yang bersebelahan dengan blok tempat tinggalku. Satu kamar ia huni bersama beberapa orang, disewakan per bulan dengan sistem potong gaji. Setiap pagi ada bus pekerja yang datang menjemput dan mengantarkannya kembali pulang di kala malam menjelang. Transportasi ini juga dibayar dengan sistem potong gaji.

Sudah 3 tahun ia bekerja di agensi itu dengan dua kali sempat pulang ke kampung halamannya di Ponorogo, di Jawa Tengah sana. Waktu yang sudah cukup panjang, tapi tidak membuatnya lebih sejahtera dari saat ia berangkat merantau 3 tahun lalu. Ia bilang kehidupannya begitu-begitu saja, hanya cukup untuk makan. Kerja keras dengan penghasilan sedikit karena banyak potongan, begitu katanya menggambarkan.

Dari mulutnya aku mengetahui beberapa hal yang memprihatinkan. Banyak cerita sedih seputar TKI yang pernah kudengar. Cerita Pak De adalah bentuk lainnya bagaimana permainan pihak agensi dalam memeras dan menipu mereka.

Dalam pembayaran pajak levi misalnya, ia dibebani biaya 2 kali lipat. Seumpama levi satu tahun adalah RM1200 (pada kurs RM1=Rp 3000, setara dengan Rp 3.600.000), maka ia dikenai kewajiban membayar RM2400. Pada agensi atau perusahaan yang baik, levi dapat dicicil selama 1 tahun. Di agensi tempat Pak De ini, levi harus lunas dalam 6 bulan! Artinya ia dibuat bekerja 2 kali lebih keras agar dapat menyelesaikan pembayaran 2 kali lebih cepat dibandingkan orang lain!

Paspornya pernah ‘hilang’ sekali. Bukan ia yang menghilangkan, tetapi pihak agensi. Selama masa kontrak kerja dengan agensi, paspor ditahan dan disimpan oleh agensi. Tetapi pihak agensi tidak mau bertanggung jawab atas ‘kehilangan’ itu! Demi keamanan dan keselamatannya di negeri orang, ia ‘disarankan’ untuk membuat paspor baru melalui agensi. Pak De diharuskan merogoh kocek dan membayar sendiri biaya pembuatan paspor baru.

Karena memiliki paspor baru, ‘tentunya’ ia harus punya permit kerja yang baru lagi. Ia kembali harus membayar semua biaya permit, termasuk levi. Begitu agensi itu berkata. Akibatnya, ia kembali harus menanggung beban biaya 2 kali lipat itu dan kembali harus melunasi dalam waktu singkat!

Sebuah lingkaran setan pemerasan yang hanya dapat dilakukan oleh agensi berhati setara setan pemakan keringat dan darah manusia! Atas nama uang dan keserakahan, mereka melupakan kemanusiaan.

Pak De ingin bisa menabung atas jerih payahnya bekerja jauh di rantau orang. Bukan menjadi sapi perahan yang bekerja untuk agensi keparat. Ia ingin lepas dari kontrak dengan agensinya sekarang. Tapi ia tak tahu bagaimana melepaskan diri. Bahkan sampai saat terakhir kami berjumpa sebelum ia dipindahrumahkan ke lokasi yang ia sendiri belum tahu, ia hanya bisa pasrah. Saranku agar ia mengadu ke konsulat hanya ditanggapinya dengan wajah bingung, “aku iki wong bodo, Mas, ora ngerti sing koyo’ ngono“.

Hati-hati Pak De, do’aku untuk kesehatan dan keselamatanmu selalu dimanapun kau berada sekarang! Insya Allah, seperti yang pernah kau sebut, “Gusti Allah ora sare!” jalan keluar segera diberikan padamu olehNya. Dan semoga kerinduanmu untuk bisa pulang kembali ke Jawa segera terobati. Yang jelas, aku tak akan lupa padamu. Seperti aku juga tak akan lupa pada singkong segar hasil olah kebun yang engkau kerjakan di sela-sela waktu kosong, yang tak lupa selalu engkau letakkan di depan pintu rumahku setiap kali engkau memanennya. Ah ya… betapa singkong adalah perlambang tepat bagi kesederhanaanmu, Pak De.

Read Full Post »

Lihatlah Ke Bawah!

 

Karena bekerja shift malam, aku sekarang tahu jadwal buka tutup kantin di pabrik kami. Kalau sebelumnya ketika aku datang pukul 08.30 pagi dan ketika aku pulang pukul 21.00 kantin masih buka, maka kini aku tahu bahwa baru pukul 21.30 kantin tutup dan sudah buka lagi pukul 05.00 pagi. Jadi hanya terdapat jeda kosong selama 7 jam saja bagi pihak kantin untuk mempersiapkan segala sesuatunya menjelang kantin dibuka dan setelah kantin ditutup.

 

Mengingat pembicaraan dengan pelayan di kantin itu beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa semua masakan itu mereka juga yang mempersiapkannya, maka aku menghitung-hitung waktu kerja mereka adalah hampir 20 jam sehari dan waktu istirahat hanya sekitar 4 jam saja! Waktu kerja adalah dari pukul 04.30 pagi sampai 12.00 malam, dimana termasuk juga waktu untuk membereskan semua perlengkapan di kantin, lama waktu tempuh dari pabrik ke rumah (juga sebaliknya), waktu memasak makanan untuk hari berikutnya dan waktu untuk mempersiapkan makanan menjelang dibawa ke kantin lagi.

 

Untuk jam kerja yang begitu panjang, para pelayan itu hanya dibayar kurang dari RM500 (tidak sampai Rp. 1.325.000) sebulannya!

 

Aku bandingkan kondisi itu dengan diriku yang saat ini mulai mengeluhkan diri karena bekerja malam hari, jam kerja 12 jam sehari, tidak harus membanting tulang kerja keras, duduk di depan komputer, di ruangan ber-AC, bergaji jauh di atas mereka, dan saat ini sudah merencanakan untuk mengajukan permintaan ini itu kepada perusahaan. Tiba-tiba aku merasa kurang banyak bersyukur atas nikmat pekerjaan yang kumiliki saat ini. Tiba-tiba aku merasa betapa banyak maunya aku. Tiba-tiba aku merasa betapa sayangnya Allah padaku dan aku tidak melihat hal itu selama ini.

Astaghfirullah ‘aladzhiim…! Ya Allah, ampunilah aku yang jauh dari rasa syukur atas karuniaMu. Ampuni aku dari rasa sombong tidak melihat ke sekitar yang kondisinya lebih buruk dari keadaanku. Tundukkanlah hatiku untuk selalu menekuri jalan petunjukMu. Jangan butakan aku atas nikmat yang telah Engkau berikan, ya Rabbi. Ajari aku untuk selalu melihat cintaMu disekelilingku.

 

NB: Waktu-waktu yang disebutkan disini adalah waktu negara bagian Johor (satu jam lebih dahulu daripada WIB).

Read Full Post »