Feeds:
Posts
Comments

Apa kabar Munir? Damaikah kau di ‘sana’? Benarkah ada yang meracunimu di pesawat Garuda itu? Bagaimana keterlibatan intelijen negara di kasusmu? Suara lantangmu yang mana yang harus dibungkam untuk selamanya? Siapakah yang sakit hati karena sepak terjangmu? Adakah jejak yang bisa kami telusuri?

Apa kabar Antasari Azhar? Lama tak kudengar kabar kasusmu. Aku hanya ingin tahu, apakah betul kejatuhan karir cemerlangmu cuma lantaran godaan seorang caddy? Nyamankah kau di selmu? Adakah pat gulipat di peradilanmu? Apakah betul kasusmu melibatkan penguasa negeri ini?

Apa kabar lumpur Lapindo Sidoarjo? Siapakah lagi yang mendengarkan jerit tangis masyarakat yang kehilangan segalanya di sana? Adakah yang memberikan solusi menahan semburan lumpur selain hanya dengan mempertinggi tanggul? Akan runtuhkan wilayah Porong sekian tahun ke depan?

Apa kabar pajak KPC dan Arutmin? Besarnya gelontoran uang bagi para tikus pajak itu mencengangkan kami. Mengapa pada mereka kalian membayar sementara kepada Indonesia yang kalian kuras kekayaannya tidak? Benarkah pak ketua parpol yang orang terkaya negeri ini ‘bermain’ di dalamnya? Siapa yang akan berani mengusik sang raja berkuasa?

Apa kabar Century? Sudah sampai dimana kasus hukummu bergerak? Para rampok lintah darat pemakan uang nasabah itu dimana sekarang? Para politisi sadar kamera itu kenapa kembali diam? Apa perlu para nasabah berdemo atau bunuh diri lagi? Kapan uang negara milik rakyat akan dikembalikan?

Apa kabar Artalita? Masih nyamankah ‘penjaramu’ sekarang? Andai semua penjara seperti punyamu dulu itu, tak ‘kan menolak kami tinggal di dalamnya! Sungguh hebat ya, kekuatan uangmu? Semua bisa kau beli. Sementara terpidana yang sama-sama bersalah tapi tak memiliki kuasa sepertimu, benar-benar merasakan derita bak neraka dunia di sana. Adakah kau tahu itu? Atau biarkan saja berlalu, seperti berlalunya hamba hukum belian yang tersenyum setelah menjemput amplop-amplopmu.

Apa kabar Gayus? Wah… wah… wah… hebat kali lah kau ini! Kau masih muda tapi teramat amat sangat kaya sekali! Uang siapakah itu semua? Bagaimana kau bisa menyimpannya? Darimana kau belajar ilmu mendatangkan banjir uang dan kekayaan begitu? Sudahkah kau ‘bernyanyi’ lantang di hadapan penegak hukum? Bagaimana akhir ceritamu ini kelak?

Apa kabar Bibit-Candra? Apa kabar KPK? Apa kabar sepak(tinju)bola nasional? Apa kabar merosotnya prestasi bulutangkis? Apa kabar banjir Jakarta? Apa kabar kemiskinan bangsa? Apa kabar Susno Duadji? Apa kabar komersialisasi pendidikan? Apa kabar kelestarian budaya bangsa? Apa kabar? Apa kabar? Apa kabar?

Kemanakah itu semua?

Hilang lenyap dilindas habis oleh pemberitaan masif mengenai video mesum artis!

Sungguh aneh. Bangsa yang doyan ketelanjangan. Bangsa yang senang menggosip. Bangsa yang menghabiskan energinya pada hal yang remeh. Bangsa yang tidak memiliki malu. Bangsa yang suka esek-esek. Bangsa yang rusak moral dan mental.

Bangsa yang pelupa!

Tulisan Kacau Balau

Pasti pernah melihat tulisan anak-anak ABG (anak baru gede) seperti ini:

AkU 1n6in k3T3Mu d14 t4p1 m4lu 5o4lny4 D14 kEr3n 5ek4l1…

atau yang seperti ini:

bs ngG’ y ak MnGHAdPi smu msLh in dngN tnng? Oh, SnGgh-sUngGH Gj..!

atau yang begini:

bu guru d4tan6 t3lat, k3l45 r4me, Uw1 bik1n 6amb4r r0bot, D1d1n6 ny0l3k1n 5int4, 4ku m0 ngap4in ya? bin6ung ah..

Ugh… betapa kacau balaunya gaya bahasa anak muda kita! Ada yang huruf besar kecilnya tidak tahu aturan, ada huruf dan angka yang dicampur tidak karuan, juga ada kata-kata yang dibuat singkat biar pendek-pendek (gaya menulis pesan pendek di handphone). Terus terang, bagi saya itu susah untuk dibaca dan sulit untuk dimengerti. Kening saya sering berkerut berusaha mengartikannya. Tulisan-tulisan ABG itu justru membingungkan dan membuat mata saya sepet. Lebih terus terang lagi, saya tidak suka gaya menulis yang merusak bahasa Indonesia seperti itu!

Saya yakin bukan saya saja yang tidak suka. Ada seorang rekan sejawat saya bahkan sampai ‘mengancam’ di dinding status Facebook-nya akan menghapus semua status yang ditulis dengan gaya tulisan seperti itu dan memutuskan pertemanan! Saya juga pernah membaca keprihatinan seorang guru bahasa mengenai hal ini. Atau himbauan seorang teman yang lain untuk menolak menggunakan cara menulis seperti itu. Dan tentunya masih banyak yang lainnya.

Dapatkah kita melakukan sesuatu?

Bukan saya menolak kreativitas kaum muda, tapi jangan yang merusak bahasa dan budaya dong!

Dana Hak Angket Century 5M?

Tidak ingin berpanjang-panjang, tapi rasanya memang berlebihan DPR minta dana 5 milyar rupiah hanya untuk ‘ngobrol-ngobrol’ dan memberikan rekomendasi atas kasus dana talangan almarhum Bank Century. Saya meragukan kemampuan dan hasil kerja dari panitia hak angket DPR ini.

Merujuk ke pelaksanaan, tidak banyak yang akan bisa dilakukan oleh 30 anggota panitia hak angket itu. Mereka kebanyakan tidak memiliki kemampuan menyelidik. Pada akhirnya nanti, tugas itu akan diserahkan kepada KPK atau Kepolisian. Demikian juga pada kualitas hasil tela’ah, dimana akan tergantung pada tim ahli independen yang mereka bentuk (dan bayar). Jadi panitia hak angket ini tidak akan lebih dari sekedar pengumpul data saja.

Panitia hak angket juga dibatasi waktu 60 hari untuk mengungkap masalah. Seperti biasa, waktu mereka akan habis berdebat hal-hal yang tidak menyentuh ke substansi persoalan. Terlepas apakah ada hak untuk meminta perpanjangan waktu kepanitiaan ini atau tidak (saya tidak tahu), kemungkinan besar panitia hak angket akan mengajukannya. Semakin lama mereka berpolemik, semakin kabur inti persoalan kasus ini kelak. Semakin sering dan lama mereka rapat, semakin banyak daftar hadir yang harus mereka tanda tangani. Anda tahu sendiri ‘kan apa arti sebuah tanda tangan di sana?

Jadi kemana dana 5M itu akan mengalir? Ya itu tadi, untuk membiayai (dengan sangat mahal) mereka ngobrol-ngobrol membicarakan hal yang seharusnya dibicarakan atau dikerjakan orang lain. Supaya punya hasil kerja, mereka akan membayar orang lain (staff administrasi, tenaga ahli, konsultan, sekretaris, dsb). Padahal di sisi lain mereka juga telah digaji secara tetap untuk itu. Soal hasil kerjanya, seperti biasa, tidak usah diharapkan, akan kabur dan tidak jelas hendak dijadikan apa.

Kembali, buang-buang uang rakyat saja! Daripada begitu, lebih baik uangnya dipakai untuk mengembalikan uang nasabah-nasabah kecil. Paling tidak itu akan mengurangi jumlah mereka yang berdemo menuntut haknya dikembalikan.

Tuanku

Telah kami angkat Tuan sebagai pemimpin kami, menjadi Tuanku yang digugu. Kami ingin Tuanku pantas kami tiru. Kami ingin Tuanku teguh dan kuat. Kami ingin Tuanku tegar dan berani. Dalam apapun yang Tuanku pikirkan, lakukan, dan katakan.

Hari-hari ini kami lihat Tuanku seperti pemain sandiwara. Tuanku mengeluh. Tuanku bersedih. Tuanku mengadu. Tuanku banyak bicara. Tuanku membuat kami cemas.

Kami tidak ingin Tuanku begitu. Janganlah membuat seolah Tuanku terpojok. Seolah tengah dirongrong sesuatu. Yang entah ada atau benar. Padahal ada kami di sini mendukung Tuanku. Dan kami tidak melihat apa-apa. Seperti yang Tuanku lihat di atas sana. Tinggi sendiri bak elang yang tak pernah berkelompok mungkin memang sepi. Tapi itu bukanlah alasan untuk membuat kami khawatir.

Jangan sampai kami berpikir, Tuanku hanya mencari-cari alasan atau justru sedang menakut-nakuti kami.

Kami tak butuh penjelasan lebih, buatlah diri Tuan menjadi Tuanku yang sesungguhnya bagi kami. Kami adalah bagian dari sejarah yang sedang Tuanku tulis, maka itu hargai juga hormat kami. Seperti yang pernah kami berikan kepada pendahulu-pendahulu Tuanku yang pemberani.

Kalau tidak, maafkan kami menganggap Tuanku cengeng dan tak pantas lagi kami Pertuan.

2 kasus bunuh diri di pusat keramaian itu menarik perhatian. Juga satu kasus yang terjadi di tanah suci. Serta satunya lagi di daerah. Nyaris pada waktu yang sama. Ada apa? Trend barukah? Hih… *bergidik*

Ah, saya bukan psikolog seperti seorang teman saya yang udah berkelas seleb itu. Jadi saya tidak akan berurai-urai membahas kenapa-kenapanya. Juga bukan ahli agama yang bisa berkhotbah berpanjang berlebar untuk itu. Jadi jangan tanya hadist atau surat atau ayat ke saya karena yang saya tahu cuma sebatas bahwa bunuh diri itu dosa besar dan pasti masuk neraka.

Cara orang menghentikan kehidupannya ada banyak. Mulai dari yang bersendiri menggantung leher, menenggak racun, memutuskan urat nadi, terjun dari ketinggian, menabrakkan diri, membakar diri, sampai ke russian rollet, dan sebagainya dengan setiap cara juga memiliki keunikan variasi sendiri-sendiri. Atau secara bersama-sama mengikuti ajaran aliran sesat tertentu atau dengan maksud tertentu.

Dari sisi ini, sebenarnya pelaku bunuh diri adalah orang-orang yang kreatif, selalu menemukan cara untuk memutuskan hubungannya dengan dunia. Dan ketidaktercegahannya adalah bukti kreativitas itu.

Proses membuat keputusan besar itu jelas tidak singkat. Mereka jelas telah mempertimbangkannya lama. Barangkali juga diiringi oleh rasa takut dan kengerian. Serta juga kesedihan, mungkin. Apapun, keputusan tetap dibuat dan dilaksanakan dengan tekad kuat.

Bukankah dengan demikian sebenarnya pelaku bunuh diri adalah juga para pemberani dan pembuat keputusan yang tegas serta teguh dengan pendirian mereka?

Saya yakin Saudara akan senang kalau saya ajak jalan-jalan ke jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Jembatan ini sangatlah menarik arsitekturnya dan terkenal di seluruh dunia. Ia adalah ikon kebanggaan dan landmark kota San Fransisco bahkan juga Amerika. Tapi tahukah Saudara bahwa Golden Gate adalah tempat favorit orang Amerika untuk bunuh diri? Setiap 2 minggu ada 1 orang yang mengakhiri hidupnya dengan menerjunkan diri di sana. Atau Saudara saya ajak ke air terjun Niagara, tebing The Gap di Australia, hutan Aokigahara di Jepang, kota judi Las Vegas, atau ke pantai Beachy Head di Inggris. Bukan untuk bersenang-senang tentunya, karena itu adalah tempat-tempat yang disukai oleh orang di sana untuk mengakhiri hidup. Masih mau?😉

Nah, ternyata lokasi favorit tempat melaksanakan niat bunuh diri ternyata adalah tempat-tempat yang indah dan menarik. Bukankah berarti bahwa rasa senang pada keindahan masih ada di pikiran mereka, paling tidak untuk dilihat terakhir kalinya?

Di Indonesia mudah-mudahan saja tidak ada trend begitu. Baik tempat, cara, atau penyebab. Atau sudah mengarah ke sana juga?

Terakhir, meniru kalimat yang ngetrend di ranah hukum, bunuh diri adalah tindakan yang bisa dikenai pasal penyalahgunaan wewenang. Wewenangnya siapa? Wewenang malaikat dong! Memangnya pasal itu bisa diterapkan? Bisa! Saudara bisa ditangkap oleh sembarang penyebab karena pasal itu adalah pasal karet yang dapat ditarik seluas-luasnya, sejauh-jauhnya, sebesar-besarnya, dan sesuka-sukanya manusia yang menerapkan pasal tersebut. Tapi sekali lagi, itu kalo ketangkap manusia lho. Makanya pelaku bunuh diri, seperti juga korupsi di negeri ini, tenang-tenang saja. Silakan saja tangkap, orangnya udah mati (rasa) ini! Bukan wewenang hukum dunia yang bisa menangkap, karena yang diselewengkan dan dilangkahi adalah hukum Tuhan. Jadi pasrahkan saja pada Tuhan untuk menentukan apa yang pantas bagi mereka. Okay?

Titah

Sebuah titah adalah bukti kecerahan jiwa baginda di atas mendung pemikiran rakyatnya. Jika baginda telah bertitah, kecamuk pikiran rakyat akan tersapu bersih dan mereka bergerak sesuai titah. Jika baginda telah bertitah, gejolak emosi rakyat redam dan mereka mengangguk patuh. Jika baginda telah bertitah, rakyat akan mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk melaksanakan titah. Begitu indahnya pesona titah, maka banyak jelata yang bermimpi bisa bertitah.

Sebuah titah adalah bukti penguasaan baginda atas jiwa raga rakyatnya. Ketika baginda bertitah, rakyat diam mendengarkan tanpa kata. Ketika baginda bertitah, rakyat patuh tanpa banyak tanya. Ketika baginda bertitah, rakyat rela berkorban apa saja. Ketika baginda bertitah, punggawa bekerja memastikan titah dilaksanakan. Begitu kuatnya pikat kekuasaan, maka banyak jelata ingin menjelma baginda.

Sebuah titah adalah bukti kemuktian sang baginda di atas segala. Di hadapan titah baginda, tiada adi yang lebih digdaya. Di hadapan titah baginda, semua jawara menjura. Di hadapan titah baginda, hilang sudah kuasa dan perwira. Di hadapan titah baginda, cambuk dan penjara bagi yang jumawa. Begitu perkasa titah baginda, maka banyak jelata sedia bertapa bak baginda.

Maka ketika kemudian titah baginda menjadi samar untuk dimengerti apalagi dilaksanakan sedaya upaya, kemana jelata hendak berkaca? Apakah jelata harus berganti baginda dan mencari baginda baru yang sanggup memberikan titah yang bermakna? Kemanakah jelata akan menemukan baginda yang seperti itu? Berapa purnama lagi diperlukan untuk mendudukkan baginda baru di kursinya? Sekarang paman Patih tergagap tak tahu hendak apa. Punakawan bingung tersebar terpencar. Punggawa berlarian mencari perwira. Jelata, mereka merana melata-lata. Sementara para raksasa bersiap mengancam dari balik jendela!

Titahmu Baginda, janganlah abu-abu…!

Kambing Pak Umar

Siang November yang terik. Lalu lalang kendaraan yang melewati halte tanpa atap itu menyebabkan debu-debu terangkat naik dan menyebar. Beberapa orang yang berdiri di situ menutup mulut dan hidungnya untuk menepis debu. Sebagian yang lain tidak peduli. Malah membuka mulutnya untuk menimpali obrolan temannya yang sedang menceritakan sesuatu. Sementara seseorang tengah asyik mengelap sepeda motornya. Ada beberapa sepeda motor juga sedang diparkir di sana. Menunggu penumpang. Seperti di banyak tempat, halte itu adalah juga pangkalan ojek.

Dari seberang jalan, aku melambaikan tangan. Salah seorang di sana menanggapi dengan mengangkat tangannya dan kemudian berpaling ke sebuah papan. Lalu ia bangkit dan menepuk pundak temannya. Sepertinya giliran mengangkut penumpang berikutnya ada pada orang tersebut. Tubuhnya kecil dan nampak sudah tua. Kuamati ia menuntun sepeda motornya keluar dari halte dan bergerak ke arahku. Kulihat seperti ada yang salah dari caranya membawa motor, agak goyah.

Kantor Pos Juanda, Pak!” kataku padanya menyebutkan tujuan. Panggilan ‘Pak’ atasnya adalah setelah aku melihat kerut-kerut di wajah dan tangannya, pertanda usia yang telah jauh berjalan. Dari balik kaca helm yang diberikannya, aku melihat bapak pengojek ini mengangguk mengerti. Kamipun berangkat.

Baru saja jalan beberapa puluh meter aku sudah merasa tidak nyaman diboncengi. Sepeda motor berjalan tidak stabil, goyah seperti orang yang baru belajar berkendara. Kemudian karena si bapak mengambil jalan agak ke tengah padahal jalanan sedang ramai sehingga membahayakan. Lagipula gigi yang dipakai tidak sesuai dengan kecepatan kendaraan sehingga jalannya motor kadang tersendat-sendat atau malahan mesin menggerung terlalu tinggi.

Pelan kutepuk pundak si bapak, “Pak, motornya kenapa? Kok jalannya begini?” tanyaku. “Ngga’ apa-apa, Nak. Kita ke tepi dulu ya” katanya menepikan kendaraan. Keningku berkerut bertanya-tanya. Tidak apa-apa kok jalannya ngga’ benar, lalu tiba-tiba minta menepi, ada apa? Sesampainya di pinggir jalan, aku turun dari boncengan dan berdiri di samping si bapak.

Anak saja yang bawa motornya, saya di belakang saja” pinta si bapak, “saya belum biasa memakai motor ini.” Gubrak… tukang ojek kok ngga’ biasa bawa motor?! pikirku. Masa penumpang yang boncengin tukang ojeknya? Aneh banget ‘kan? Namun demi mengingat keperluan ke kantor pos dan ingin tahu bagaimana kisahnya si bapak ini, aku bersedia bertukar tempat. Lagipula kemudian aku juga memikirkan keselamatan si bapak saat kembali ke pangkalannya yang tak jauh dari kantorku yang harus melewati jalan dan perempatan yang ramai, aku berniat untuk memboncengkannya kembali. Toh tujuanku keluar kantor hari ini memang hanya ke kantor pos, tidak kemana-mana lagi.

Singkat cerita, di saat menunggu antrian pembayaran kantor pos yang cukup panjang, aku berbincang-bincang dengan pak Umar, bapak pengojek tadi. Kubelikan teh botol dingin untuknya dan sebotol air mineral untukku sendiri sebagai pelepas dahaga di siang yang terik itu.

Saya baru hari ini mengojek, Nak. Sepedanya juga dapat minjam dari tetangga sebelah.” Pak Umar berkata sambil melepas jaketnya. Kuperhatikan baju kaus yang dipakainya sudah tak jelas warnanya, mungkin dulunya hijau yang makin lama makin memudar setelah sekian tahun dipakai. Celana kain yang dipakainya juga sudah tua. Dengan sandal jepit bertali biru menghiasi kakinya, potret pak Umar yang tua, miskin dan kenyang dengan kerasnya jalan hidup yang dijalani nampak makin sempurna.

Sebelumnya bapak kerja apa?” tanyaku sambil menghela nafas, kasihan pada sosoknya, “berbahaya lho pak menjadi tukang ojek kalau bapak tidak menguasai motor dengan baik. Bapak bisa celaka di jalan raya.

Anak benar. Sebetulnya saya ini biasa jaga warung saja di rumah, dengan istri. Tapi saya sudah berniat, jadi saya akan cukupi dengan menjadi tukang ojek” pak Umar berkata sambil duduk di tembok pembatas teras kantor pos. Dari teras luar ini aku bisa melihat nomor antrian berapa yang sedang dilayani sekarang. Nomor antrianku masih lama, jadi aman-aman saja kalau kami menunggu di luar.

Niat apa, Pak?

Ya cari duit, buat nambahin beli kambing. Saya berniat qurban tahun ini, Nak.”

Kalau belum cukup ‘kan ngga’ apa-apa ngga’ ikut qurban, Pak” kataku.

“Kalau ngga’ diniatin ya begitu-begitu terus, Nak. Ngga’ bakalan pernah bisa berqurban. Tiap tahun saya menghibur diri dengan apa yang barusan Anak katakan. Sampai sekarang, ngga’ pernah terlaksana. Duit yang saya simpan-simpan setiap hari, habis saja dipakai. Buat makanlah, buat bayar sekolah anaklah, macam-macam pokoknya… Akhirnya ya tetap aja ngga’ kebeli kambing!

Terus Bapak ngojek buat beli kambing itu?

Buat tambahannya. 3 hari yang lalu Bapak sudah melihat-lihat di tempat penjualan hewan qurban, ternyata duit yang selama ini Bapak sisihin dari keuntungan warung tiap hari belum cukup. Makanya Bapak ngojek. Kebetulan tetangga Bapak ngijinin motornya dipinjam, asalkan dijaga baik-baik.” jawab Pak Umar sambil kembali menyedot teh botolnya.

Oh begitu. Maaf kalau boleh tahu, memangnya kurang berapa lagi Pak?

Dua ratus ribu lagi. Tapi susah nyari duit sebanyak itu sekarang. Apalagi waktu qurban sudah semakin dekat. Bapak tidak akan bisa berqurban lagi tahun ini…” jawabnya lirih sambil menundukkan kepala. Nampaknya ia menyesal sekali tidak akan dapat menunaikan niatnya. “Saya sudah tua, waktu saya di dunia ini mungkin tak lama lagi. Saya ingin sekali bisa berqurban. Sekali saja seumur hidup juga tak apa-apa asalkan saya pernah. Kelak nanti saya bisa jawab ketika malaikat bertanya apakah saya pernah berqurban atau tidak. Saya ingin pintu-pintu rahmat terbuka luas bagi saya dan keluarga. Saya ingin dido’akan..…” kalimat pak Umar terputus, suaranya tercekat.

Aku tercenung. Begitu besarnya keinginan pak Umar ini untuk berqurban, sampai-sampai ia siap menghadapi resiko mencari tambahan uang dengan mengojek, yang sama sekali belum pernah ia jalani.

Pada setiap tanduk, kaki atau potongan tubuhnya, akan ada pembelaan atas dosa-dosa kita, Nak. Pada setiap helai bulu hewan yang kita qurbankan, akan ada kesaksian atas keikhlasan kita. Pada tetesan darahnya akan ada pengakuan atas ketaqwaan kita. Besar sekali pahala berqurban itu, besar sekali….” Pak Umar semakin kehilangan kata-katanya.

Dan aku pun ikut kehilangan kata-kata. Untuk bersedekah biasa saja tidak terpikir olehku, apalagi berqurban. Padahal gajiku jelas-jelas cukup untuk membeli seekor kambing tanpa harus mengorbankan berbagai kebutuhanku yang lainnya. Jika diniatkan, aku bahkan sanggup berqurban sapi kalau tiap bulan uangku disisihkan selama satu tahun. Tapi tak pernah ada bersitan niat itu di pikiranku. Sungguh berbeda dengan pak Umar yang rela menyisihkan penghasilan warungnya yang sedikit itu demi bisa berqurban. Bahkan mengambil resiko menjadi tukang ojek agar dapat mencukupi kekurangannya. Benar-benar kontradiksi yang menjungkirbalikkan pemikiranku atas nilai-nilai penting dalam kehidupan dan tingkat keyakinan spiritualitas.

Sepulang mengantar pak Umar ke warungnya, mataku berkaca-kaca. Bahkan dengan kondisi rumah dan warung yang begitu sederhana, hati pak Umar bagaikan berlian yang berkilau di tengah himpitan kesulitan-kesulitan hidupnya. Ia masih mau berqurban dan memikirkan saudara-saudaranya yang lain yang lebih menderita dibandingkan untuk mencukupi dirinya sendiri. Maka apalah artinya sejumlah uang yang kuraih seasalnya dari dompetku, yang membuat tangan dan bibirnya bergetar  dan matanya berkaca-kaca itu. Masih terngiang di telingaku kata-kata pak Umar pada istrinya saat aku melangkah pergi, “Alhamdulillah buk, kita bisa berqurban tahun ini! Alhamdulillah… terima kasih ya Allah…!