Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

Tulisan Kacau Balau

Pasti pernah melihat tulisan anak-anak ABG (anak baru gede) seperti ini:

AkU 1n6in k3T3Mu d14 t4p1 m4lu 5o4lny4 D14 kEr3n 5ek4l1…

atau yang seperti ini:

bs ngG’ y ak MnGHAdPi smu msLh in dngN tnng? Oh, SnGgh-sUngGH Gj..!

atau yang begini:

bu guru d4tan6 t3lat, k3l45 r4me, Uw1 bik1n 6amb4r r0bot, D1d1n6 ny0l3k1n 5int4, 4ku m0 ngap4in ya? bin6ung ah..

Ugh… betapa kacau balaunya gaya bahasa anak muda kita! Ada yang huruf besar kecilnya tidak tahu aturan, ada huruf dan angka yang dicampur tidak karuan, juga ada kata-kata yang dibuat singkat biar pendek-pendek (gaya menulis pesan pendek di handphone). Terus terang, bagi saya itu susah untuk dibaca dan sulit untuk dimengerti. Kening saya sering berkerut berusaha mengartikannya. Tulisan-tulisan ABG itu justru membingungkan dan membuat mata saya sepet. Lebih terus terang lagi, saya tidak suka gaya menulis yang merusak bahasa Indonesia seperti itu!

Saya yakin bukan saya saja yang tidak suka. Ada seorang rekan sejawat saya bahkan sampai ‘mengancam’ di dinding status Facebook-nya akan menghapus semua status yang ditulis dengan gaya tulisan seperti itu dan memutuskan pertemanan! Saya juga pernah membaca keprihatinan seorang guru bahasa mengenai hal ini. Atau himbauan seorang teman yang lain untuk menolak menggunakan cara menulis seperti itu. Dan tentunya masih banyak yang lainnya.

Dapatkah kita melakukan sesuatu?

Bukan saya menolak kreativitas kaum muda, tapi jangan yang merusak bahasa dan budaya dong!

Advertisements

Read Full Post »

Tidak ingin berpanjang-panjang, tapi rasanya memang berlebihan DPR minta dana 5 milyar rupiah hanya untuk ‘ngobrol-ngobrol’ dan memberikan rekomendasi atas kasus dana talangan almarhum Bank Century. Saya meragukan kemampuan dan hasil kerja dari panitia hak angket DPR ini.

Merujuk ke pelaksanaan, tidak banyak yang akan bisa dilakukan oleh 30 anggota panitia hak angket itu. Mereka kebanyakan tidak memiliki kemampuan menyelidik. Pada akhirnya nanti, tugas itu akan diserahkan kepada KPK atau Kepolisian. Demikian juga pada kualitas hasil tela’ah, dimana akan tergantung pada tim ahli independen yang mereka bentuk (dan bayar). Jadi panitia hak angket ini tidak akan lebih dari sekedar pengumpul data saja.

Panitia hak angket juga dibatasi waktu 60 hari untuk mengungkap masalah. Seperti biasa, waktu mereka akan habis berdebat hal-hal yang tidak menyentuh ke substansi persoalan. Terlepas apakah ada hak untuk meminta perpanjangan waktu kepanitiaan ini atau tidak (saya tidak tahu), kemungkinan besar panitia hak angket akan mengajukannya. Semakin lama mereka berpolemik, semakin kabur inti persoalan kasus ini kelak. Semakin sering dan lama mereka rapat, semakin banyak daftar hadir yang harus mereka tanda tangani. Anda tahu sendiri ‘kan apa arti sebuah tanda tangan di sana?

Jadi kemana dana 5M itu akan mengalir? Ya itu tadi, untuk membiayai (dengan sangat mahal) mereka ngobrol-ngobrol membicarakan hal yang seharusnya dibicarakan atau dikerjakan orang lain. Supaya punya hasil kerja, mereka akan membayar orang lain (staff administrasi, tenaga ahli, konsultan, sekretaris, dsb). Padahal di sisi lain mereka juga telah digaji secara tetap untuk itu. Soal hasil kerjanya, seperti biasa, tidak usah diharapkan, akan kabur dan tidak jelas hendak dijadikan apa.

Kembali, buang-buang uang rakyat saja! Daripada begitu, lebih baik uangnya dipakai untuk mengembalikan uang nasabah-nasabah kecil. Paling tidak itu akan mengurangi jumlah mereka yang berdemo menuntut haknya dikembalikan.

Read Full Post »

Tuanku

Telah kami angkat Tuan sebagai pemimpin kami, menjadi Tuanku yang digugu. Kami ingin Tuanku pantas kami tiru. Kami ingin Tuanku teguh dan kuat. Kami ingin Tuanku tegar dan berani. Dalam apapun yang Tuanku pikirkan, lakukan, dan katakan.

Hari-hari ini kami lihat Tuanku seperti pemain sandiwara. Tuanku mengeluh. Tuanku bersedih. Tuanku mengadu. Tuanku banyak bicara. Tuanku membuat kami cemas.

Kami tidak ingin Tuanku begitu. Janganlah membuat seolah Tuanku terpojok. Seolah tengah dirongrong sesuatu. Yang entah ada atau benar. Padahal ada kami di sini mendukung Tuanku. Dan kami tidak melihat apa-apa. Seperti yang Tuanku lihat di atas sana. Tinggi sendiri bak elang yang tak pernah berkelompok mungkin memang sepi. Tapi itu bukanlah alasan untuk membuat kami khawatir.

Jangan sampai kami berpikir, Tuanku hanya mencari-cari alasan atau justru sedang menakut-nakuti kami.

Kami tak butuh penjelasan lebih, buatlah diri Tuan menjadi Tuanku yang sesungguhnya bagi kami. Kami adalah bagian dari sejarah yang sedang Tuanku tulis, maka itu hargai juga hormat kami. Seperti yang pernah kami berikan kepada pendahulu-pendahulu Tuanku yang pemberani.

Kalau tidak, maafkan kami menganggap Tuanku cengeng dan tak pantas lagi kami Pertuan.

Read Full Post »

2 kasus bunuh diri di pusat keramaian itu menarik perhatian. Juga satu kasus yang terjadi di tanah suci. Serta satunya lagi di daerah. Nyaris pada waktu yang sama. Ada apa? Trend barukah? Hih… *bergidik*

Ah, saya bukan psikolog seperti seorang teman saya yang udah berkelas seleb itu. Jadi saya tidak akan berurai-urai membahas kenapa-kenapanya. Juga bukan ahli agama yang bisa berkhotbah berpanjang berlebar untuk itu. Jadi jangan tanya hadist atau surat atau ayat ke saya karena yang saya tahu cuma sebatas bahwa bunuh diri itu dosa besar dan pasti masuk neraka.

Cara orang menghentikan kehidupannya ada banyak. Mulai dari yang bersendiri menggantung leher, menenggak racun, memutuskan urat nadi, terjun dari ketinggian, menabrakkan diri, membakar diri, sampai ke russian rollet, dan sebagainya dengan setiap cara juga memiliki keunikan variasi sendiri-sendiri. Atau secara bersama-sama mengikuti ajaran aliran sesat tertentu atau dengan maksud tertentu.

Dari sisi ini, sebenarnya pelaku bunuh diri adalah orang-orang yang kreatif, selalu menemukan cara untuk memutuskan hubungannya dengan dunia. Dan ketidaktercegahannya adalah bukti kreativitas itu.

Proses membuat keputusan besar itu jelas tidak singkat. Mereka jelas telah mempertimbangkannya lama. Barangkali juga diiringi oleh rasa takut dan kengerian. Serta juga kesedihan, mungkin. Apapun, keputusan tetap dibuat dan dilaksanakan dengan tekad kuat.

Bukankah dengan demikian sebenarnya pelaku bunuh diri adalah juga para pemberani dan pembuat keputusan yang tegas serta teguh dengan pendirian mereka?

Saya yakin Saudara akan senang kalau saya ajak jalan-jalan ke jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Jembatan ini sangatlah menarik arsitekturnya dan terkenal di seluruh dunia. Ia adalah ikon kebanggaan dan landmark kota San Fransisco bahkan juga Amerika. Tapi tahukah Saudara bahwa Golden Gate adalah tempat favorit orang Amerika untuk bunuh diri? Setiap 2 minggu ada 1 orang yang mengakhiri hidupnya dengan menerjunkan diri di sana. Atau Saudara saya ajak ke air terjun Niagara, tebing The Gap di Australia, hutan Aokigahara di Jepang, kota judi Las Vegas, atau ke pantai Beachy Head di Inggris. Bukan untuk bersenang-senang tentunya, karena itu adalah tempat-tempat yang disukai oleh orang di sana untuk mengakhiri hidup. Masih mau? 😉

Nah, ternyata lokasi favorit tempat melaksanakan niat bunuh diri ternyata adalah tempat-tempat yang indah dan menarik. Bukankah berarti bahwa rasa senang pada keindahan masih ada di pikiran mereka, paling tidak untuk dilihat terakhir kalinya?

Di Indonesia mudah-mudahan saja tidak ada trend begitu. Baik tempat, cara, atau penyebab. Atau sudah mengarah ke sana juga?

Terakhir, meniru kalimat yang ngetrend di ranah hukum, bunuh diri adalah tindakan yang bisa dikenai pasal penyalahgunaan wewenang. Wewenangnya siapa? Wewenang malaikat dong! Memangnya pasal itu bisa diterapkan? Bisa! Saudara bisa ditangkap oleh sembarang penyebab karena pasal itu adalah pasal karet yang dapat ditarik seluas-luasnya, sejauh-jauhnya, sebesar-besarnya, dan sesuka-sukanya manusia yang menerapkan pasal tersebut. Tapi sekali lagi, itu kalo ketangkap manusia lho. Makanya pelaku bunuh diri, seperti juga korupsi di negeri ini, tenang-tenang saja. Silakan saja tangkap, orangnya udah mati (rasa) ini! Bukan wewenang hukum dunia yang bisa menangkap, karena yang diselewengkan dan dilangkahi adalah hukum Tuhan. Jadi pasrahkan saja pada Tuhan untuk menentukan apa yang pantas bagi mereka. Okay?

Read Full Post »