Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Malaysia’ Category

Pak De

Aku tak tahu nama ataupun umurnya. Biasanya kusapa ia dengan panggilan Pak De sebagai penghormatan atas usianya yang lebih tua dariku. Perkiraanku, ia sekitar 60 tahun lebih. Kerut-kerut di wajahnya mungkin mengelabui usianya yang sebenarnya, jadi angka umur yang kusebutkan bisa saja lebih kecil atau lebih besar. Yang jelas kerasnya kehidupan yang ia jalani terpatri kuat di tubuh kecilnya yang ringkih. Seolah seluruh beban hidup itu telah meluluhlantakkan semua keperkasaan masa mudanya.

Pak De bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah agensi kontraktor di wilayah Johor Bahru. Ia bekerja di lokasi dimana agensinya sedang memiliki proyek. Dimana dibutuhkan, ke sanalah ia diberangkatkan. Kalau sedang sepi kerjaan, ia tak pergi bekerja (yang berarti tak ada penghasilan). Pak De tinggal di salah satu unit apartemen milik bossnya di blok yang bersebelahan dengan blok tempat tinggalku. Satu kamar ia huni bersama beberapa orang, disewakan per bulan dengan sistem potong gaji. Setiap pagi ada bus pekerja yang datang menjemput dan mengantarkannya kembali pulang di kala malam menjelang. Transportasi ini juga dibayar dengan sistem potong gaji.

Sudah 3 tahun ia bekerja di agensi itu dengan dua kali sempat pulang ke kampung halamannya di Ponorogo, di Jawa Tengah sana. Waktu yang sudah cukup panjang, tapi tidak membuatnya lebih sejahtera dari saat ia berangkat merantau 3 tahun lalu. Ia bilang kehidupannya begitu-begitu saja, hanya cukup untuk makan. Kerja keras dengan penghasilan sedikit karena banyak potongan, begitu katanya menggambarkan.

Dari mulutnya aku mengetahui beberapa hal yang memprihatinkan. Banyak cerita sedih seputar TKI yang pernah kudengar. Cerita Pak De adalah bentuk lainnya bagaimana permainan pihak agensi dalam memeras dan menipu mereka.

Dalam pembayaran pajak levi misalnya, ia dibebani biaya 2 kali lipat. Seumpama levi satu tahun adalah RM1200 (pada kurs RM1=Rp 3000, setara dengan Rp 3.600.000), maka ia dikenai kewajiban membayar RM2400. Pada agensi atau perusahaan yang baik, levi dapat dicicil selama 1 tahun. Di agensi tempat Pak De ini, levi harus lunas dalam 6 bulan! Artinya ia dibuat bekerja 2 kali lebih keras agar dapat menyelesaikan pembayaran 2 kali lebih cepat dibandingkan orang lain!

Paspornya pernah ‘hilang’ sekali. Bukan ia yang menghilangkan, tetapi pihak agensi. Selama masa kontrak kerja dengan agensi, paspor ditahan dan disimpan oleh agensi. Tetapi pihak agensi tidak mau bertanggung jawab atas ‘kehilangan’ itu! Demi keamanan dan keselamatannya di negeri orang, ia ‘disarankan’ untuk membuat paspor baru melalui agensi. Pak De diharuskan merogoh kocek dan membayar sendiri biaya pembuatan paspor baru.

Karena memiliki paspor baru, ‘tentunya’ ia harus punya permit kerja yang baru lagi. Ia kembali harus membayar semua biaya permit, termasuk levi. Begitu agensi itu berkata. Akibatnya, ia kembali harus menanggung beban biaya 2 kali lipat itu dan kembali harus melunasi dalam waktu singkat!

Sebuah lingkaran setan pemerasan yang hanya dapat dilakukan oleh agensi berhati setara setan pemakan keringat dan darah manusia! Atas nama uang dan keserakahan, mereka melupakan kemanusiaan.

Pak De ingin bisa menabung atas jerih payahnya bekerja jauh di rantau orang. Bukan menjadi sapi perahan yang bekerja untuk agensi keparat. Ia ingin lepas dari kontrak dengan agensinya sekarang. Tapi ia tak tahu bagaimana melepaskan diri. Bahkan sampai saat terakhir kami berjumpa sebelum ia dipindahrumahkan ke lokasi yang ia sendiri belum tahu, ia hanya bisa pasrah. Saranku agar ia mengadu ke konsulat hanya ditanggapinya dengan wajah bingung, “aku iki wong bodo, Mas, ora ngerti sing koyo’ ngono“.

Hati-hati Pak De, do’aku untuk kesehatan dan keselamatanmu selalu dimanapun kau berada sekarang! Insya Allah, seperti yang pernah kau sebut, “Gusti Allah ora sare!” jalan keluar segera diberikan padamu olehNya. Dan semoga kerinduanmu untuk bisa pulang kembali ke Jawa segera terobati. Yang jelas, aku tak akan lupa padamu. Seperti aku juga tak akan lupa pada singkong segar hasil olah kebun yang engkau kerjakan di sela-sela waktu kosong, yang tak lupa selalu engkau letakkan di depan pintu rumahku setiap kali engkau memanennya. Ah ya… betapa singkong adalah perlambang tepat bagi kesederhanaanmu, Pak De.

Advertisements

Read Full Post »

Maggi Ala Indon

maggi-ala-indon1Rasa adalah persoalan selera. Tiap orang punya cita tersendiri. Demikian juga bangsa. Tak terkecuali pada makanan. Meski itu berupa mie istant. Bahkan pada tingkatan tertentu ia adalah identitas. Yang lekat sebagai bagian dari kehidupan anak kost, mahasiswa perantauan, pekerja kerah biru atau bahkan pada anak-anak.

Meski jauh dari kampung halaman, terkadang ia tak dapat dikompromikan. Banyak cerita kita dengar tentang orang Indonesia yang membawa perbekalan makanan ke luar negeri. Sesekali pulang tentu bukan masalah. Namun jika tiap sebentar harus pulang ke Indonesia hanya untuk sekedar menikmati makanan tentulah akan berat di sisi biaya. Di sanalah pengusaha membaca peluang dan menjadikannya mesin uang. Terciptalah antara lain produk-produk makanan, seperti mie instant berlabel Maggi ini, bercita rasa kampung halaman di negeri tetangga.

Produsen mie ini memasang tulisan ‘ala Indon’ di kemasan luarnya. Ia jelas bukan yang pertama karena produsen mie lain juga melakukan hal yang sama. Pasar yang dituju sungguh besar di negeri ini dan potensial. Jadi dipajanglah ia untuk menarik perhatian ‘orang Indon’, salah satunya di kedai runcit di ujung Johor Bahru tempat saya mengambil gambar.

maggi-ala-indon2

Terserah Anda untuk memilih dan mencicipi, apakah betul rasanya sama dengan mie instant favorit Anda di Indonesia ataukah tidak. Kalau saya, sampai sekarang masih memilih untuk menggotong satu kotak mie setiap kali saya mampir ke Batam.

Ya, rasa memang soal selera. Dan selera saya masih terikat pada yang asli dari negeri sendiri, bukan pada yang ‘ala Indon’.

Read Full Post »

Muon Nam, Vietnam!

Saat bus pekerja sampai di kilang pagi tadi, ada hal menarik saat melihat gadis-gadis operator berkebangsaan Vietnam turun dari bus. Hampir semua mereka mengenakan pakaian berwarna atasan putih dan bawahan hitam. Ada yang hanya berkaos putih tapi ada juga yang nampak lebih resmi mengenakan Áo Dài (pakaian tradisional semacam baju kurung ala Vietnam). Dan hampir semuanya juga menempelkan bendera kebangsaan di dada kiri atau di kerah kiri bajunya. Setelah kutanya pada salah seorang dari mereka, ternyata hari ini adalah Qouc Khanh (Hari Kemerdekaan) negara Republik Sosialis Vietnam.

Pekerja Vietnam adalah bagian terbesar dari pekerja asing di pabrik kami. Beberapa diantaranya sudah bekerja lebih dari 3 tahun di Malaysia (sejak dari pabrik Cemerlang, Ulu Tiram-JB). Tipe pekerja keras (selalu siap untuk bekerja lembur), santun, fokus dan cepat dalam melakukan pekerjaan, meski juga tidak selalu menurut pada instruksi yang diberikan (yang bisa disebabkan oleh kendala bahasa). Jika sudah sering berkomunikasi dengan mereka, pertemanan bisa sangat baik dan akrab, meski pada awalnya mereka terkesan tertutup. Tak segan-segan mereka akan menyapa, meski jenjang jabatan terentang cukup jauh. Untuk yang sering bergaul dengan mereka, tipikal wajahnya yang khas tak akan disalahkira dengan warga dari semenanjung Indocina lainnya.

Hari ini ada hembusan solidaritas yang berbeda muncul di pabrik yang mengatapi 7 kewarganegaraan ini. Banyak pekerja asing dari negara lain, seperti Nepal, Indonesia, Philipina, dan Singapore serta warga lokal Malaysia sendiri yang ikut menempelkan bendera Vietnam di dadanya. Padahal saat Singapore merayakan hari kemerdekaan pada 9 Agustus, Indonesia pada 17 Agustus dan Malaysia pada 31 Agustus, solidaritas yang sama tidak muncul. Hanya warga dari masing-masing negaralah yang menempelkan bendera kebangsaannya di pakaian kerja. Bahkan tak kulihat ada pekerja/staf berkebangsaan Singapore yang menunjukkan patriotisme seperti itu saat hari kemerdekaan mereka pada 9 Agustus lalu. Tapi hari ini berbeda, dukungan solidaritas nampak ditunjukkan oleh semua. Dan ini membuat wajah-wajah para pekerja Vietnam penuh senyum dan ramah hari ini!

Muon nam, Vietnam!

Selamat hari kemerdekaan.

Read Full Post »

Ghost festival dalam tradisi Budha China sebenarnya adalah penghormatan terhadap arwah para  leluhur. Kepada arwah leluhur dikirimkan kebutuhan-kebutuhan harian mereka di alam sana yang dipercayai sama seperti kebutuhan manusia di kehidupan dunia. Jadi makanan, pakaian, kendaraan, sampai uang pun dikirimkan. Caranya? Replika dari itu semua dibuat kemudian dibakar dan ditujukan agar sampai kepada para arwah yang dimaksudkan oleh masing-masing orang yang mendo’akan.

Seperti tahun lalu, grup perusahaan dimana aku bekerja kembali mengadakan upacara sembahyang hantu (begitu biasanya upacara ini disebut) di area lapang antara bangunan pabrik satu dan pabrik dua. 4 tenda besar dipasang sejak kemarin sore.  Ada 3 patung kayu berukiran naga dengan warna-warna indah yang terbakar mulai pagi tadi. Puluhan kantong plastik besar berisi kertas uang surga, makanan-makanan yang akan dikirimkan, buah-buahan, minuman, replika kendaraan, dll semua disusun di atas meja persembahyangan. Tak ketinggalan juga bendera-bendera kecil (pengganti Tuhan sebagai penjaga?) berkibar di tiap-tiap meja. Serta tentu saja dupa hio yang terbakar tak henti-hentinya menyebarkan asap.

Selain untuk menghormati arwah leluhur, sembahyang hantu juga dimaksudkan sebagai perjamuan kepada fakir miskin. Jamuan ini ditandai dengan sembahyang rebutan terhadap makanan sembahyang setelah penghormatan selesai diadakan. Di pabrik kami tidak ada acara rebutan makanan, tapi diganti dengan jamuan makan siang untuk seluruh karyawan secara gratis.

Read Full Post »

Membentak Polisi

Di negeri ini, aku sudah melihat bahwa warga bangsaku dipandang sebelah mata. Disebut dengan panggilan menghina ‘orang Indon’, disetarakan dengan warga dari negara Bangladesh, (yang dipanggil Bangla), warga kelas rendahan, kaum budak pekerja, gerombolan kriminal atau orang bodoh tak berbudaya. Entah kesalahannya bermula dari apa, bila dan bagaimana, tapi ia sudah berurat berakar sejak lama. Karena itu sering muncul perlakuan diskriminatif terhadap warga negara kita, bahkan untuk persoalan yang sebenarnya sederhana. Kuakui memang tak semua mereka memandang seperti itu, tapi tetap saja ini menjadi sesuatu yang mengganjal dan perlu dirubah.

Aku juga sudah belajar bahwa satu cara menghadapinya adalah dengan menunjukkan bahwa orang Indonesia itu pintar, bisa menduduki posisi/jabatan tinggi, berperilaku baik dan berpenghasilan tinggi. Maaf, penghasilan tinggi juga disebut sebagai tolak ukur bagi mereka dalam menilai karena memang karakteristik melayu yang cenderung malas, ingin yang mudah, tapi berhasil banyak ini cukup menonjol kulihat. Jika salah satu dari empat hal itu dimiliki, maka mereka menjadi lebih hormat dan bersahabat. Apalagi jika memiliki lebih.

Pintar di sini antara lain penguasaan bahasa asing, terutama Inggris. Orang sini banyak yang bisa berbahasa Inggris (karena bersekolah di luar negeri seperti Inggris, Japan, atau Australia), tapi jauh lebih banyak lagi yang tidak bisa. Dan seperti kebanyakan melayu, mereka menjadi minder bahkan ciut di hadapan orang yang bisa. Jadi bercas-cis-cus-lah di hadapan orang melayu sini, maka kita akan berada di ‘atas angin’.

Beberapa pengalamanku membuktikan hal itu. Menghadapi persoalan di pintu imigrasi Malaysia kuselesaikan dengan berbicara dalam bahasa Inggris dengan petugasnya yang tergagap-gagap melayani. Pencarian dan negosiasi harga sewa rumah menjadi lebih mudah dengan agen/pemilik rumah dimana penggunaan bahasa Inggris membuat posisi tawarku lebih baik. Bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan membuat kita lebih dianggap bahkan dibantu. Dan masih banyak contoh-contoh peristiwa lainnya yang kualami.

Tapi satu yang mungkin paling lucu adalah peristiwa hari Minggu kemarin. Aku dan keluarga menumpang bus kota Gelang Patah ~ Terminal Larkin, naik di terminal Gelang Patah. Ketika bus berhenti di halte depan dealer Honda, seorang gadis calon penumpang (satu dari beberapa orang yang baru menaiki bus) mengaku kehilangan dompetnya dan tak bisa membayar ongkos bus. Oleh si sopir ia ditanyai macam-macam, ia naik turun bus mencari-cari, sopir bolak-balik ke bagian dalam bus melihat-lihat, sehingga bus lama tak bergerak dari halte tersebut. Tak sabar menunggu, aku meminta agar si sopir tidak melayani dan menjalankan tugasnya mengemudikan bus. Kulihat mereka masih berbicara beberapa waktu sampai kemudian bus berjalan kembali.

Sampai di Lima Kedai (4 km dari Gelang Patah), sopir membawa bus ke kantor polisi! Tentu saja para penumpang menjadi bertanya-tanya, ada apa lagi? Ternyata si sopir yang ‘baik hati’ itu mengantar si gadis melaporkan peristiwa kehilangan dompet tadi ke kantor polisi terdekat. Bukannya sekedar mengantarkan sampai di situ saja, ia kemudian membiarkan polisi menyelesaikan persoalan itu di atas bus! Padahal kami para penumpang sudah mulai resah karena terhambat perjalanannya. Si bapak Polisi bertanya-tanya sebentar pada si gadis, sopir, dan pada seorang penumpang laki-laki yang sedari tadi mengobrol dengan sopir di depan. Kemudian dengan lantangnya si pak polisi berkumis tebal tadi mengumumkan bahwa ia akan memeriksa seluruh penumpang dan barang bawaan jika tidak ada yang mengembalikan atau mengakui mengambil dompet si gadis tersebut. Dan jika ia menemukan pelakunya, maka akan langsung dimasukkan ke dalam sel tahanan.

What the hell… pikirku. Untuk apa polisi memeriksa para penumpang yang jelas-jelas tak bersalah itu? Bukankah si gadis itu sudah kehilangan dompetnya sebelum menaiki bus? Kenapa ia tidak bertanya terlebih dahulu bagaimana kronologis peristiwa kehilangan itu? Kenapa mencurigai penumpang yang lain? Untuk apa membuang-buang waktu memeriksa begitu banyak penumpang dan barang? Berapa lama waktu akan terbuang hanya untuk mencari dompet yang jelas-jelas tidak berada di atas bus tersebut?

Ya sudah, naik pitamlah aku dengan cerdasnya. Mewakili para penumpang lain, aku memprotes tindakannya itu. “Hello Sir! Why don’t you ask the girl how she lost her wallet? Do you know when she lost it? Ask her when she realize the wallet was not with her anymore? How could you suspect that one of these passengers is the thief? It doesn’t make sense to me that you are going to search here while you alone are still not clear with the situation! That girl lost her wallet before she step into the bus! Do you realize it? Hey hello…. don’t waste these peoples time for such of silly investigastion! I’ll tell you now what to do, OK? You bring the girl out of this bus, ask her questions, do your investigastion or whatever you want to do. While you’ll doing that, this bus can continue the trip peacefully. OK? Do you get my points? Bring her down… bring her down!”

Si polisi berkumis tebal langsung ciut. Ia memandangku bingung. Rentetan kalimatku yang bernada sengit dan dalam bahasa yang tak dimengertinya ternyata menghilangkan rasa percaya dirinya yang tadi begitu gagah di hadapan puluhan penumpang bus. Ia, sopir dan kawan si sopir kemudian berbisik-bisik bertiga. Mama Ani sempat mendengar si polisi bertanya “Dia cakap apa tadi?” kepada kawan si sopir sambil melirikku. Sebentar kemudian si polisi menanya-nanyai si gadis lagi dan itu memancingku untuk memprotes kembali.

Hello… can you question her in your office? Don’t do it here! We need to go. You waste people’s time, you know? Go down… go down…!” sambil tanganku mengusir-usir mereka turun dari bus. Si polisi memandangku, masih dengan ekspresi tak mengerti tadi, dan akhirnya menyerah. Ia ajak si gadis turun dan berbicara pada sopir untuk meninggalkan ia di situ. Begitulah kemudian bus akhirnya bisa berjalan kembali.

Ternyata hanya dengan beberapa patah kalimat berbahasa Inggris ngawur saja, orang sini langsung minder dan ‘berkerut’. Berhadapan dengan orang berbahasa asing membuat seorang polisi garang pun kehilangan nyali, meski kami sama-sama berwajah melayunya! Hahahaha… dan ah kapan lagi punya kesempatan membentak polisi sini! 😉

Jadi agar tidak dipandang sebelah mata di tanah seberang ini, berbicaralah dengan bahasa Inggris untuk menunjukkan siapa dan bagaimana kualitas Anda. Itu salah satu kuncinya agar Anda lebih dihormati!

Read Full Post »

Miris dengan tempat sholat di Hi-Tech Mall Surabaya dalam salah satu postingan Wahida, aku malah dikasih tugas memotret surau di salah satu plaza di JB oleh si Mbak ini. Lantaran jarang main ke plaza dimaksud maka baru sekarang punya gambarnya. Sekalian saja saat ke KL minggu lalu, aku ambil juga gambar surau di terminal bus Pudu Raya dan salah satu dari surau di Genting Highland. Yang lain segera menyusul jika ada.

angsana-plaza.jpg Angsana Plaza

Surau ini luas, adem, bersih dan fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan punya ruang khusus untuk penjaga surau dan tempat berganti pakaian di dalam surau. Tempat wudhu ada 2, di dalam dan di luar. Terpisah oleh gorden di ujung adalah tempat shalat wanita.

genting-highland.jpgGenting Highland

Daya tampungnya tidak banyak, untuk sekitar 10 orang saja jika shalat berjamaah. Yang terasa ngga’ afdhol adalah letak tempat wudhu (di dalam) yang berada di arah kiblat, sehingga orang shalat menghadap ke situ. Tempat shalat wanita terpisah. Ada beberapa surau di sekitar arena permainan dan taman di Genting ini yang dapat dipergunakan untuk shalat. Pesannya jelas: jangan lupa shalat meski sedang seru-serunya bermain di fasilitas hiburan yang ada.

pudu-raya-bus-terminal.jpg Puduraya Terminal

Melihat tempatnya yang di atas terminal bus (di lantai 4), awalnya terpikir surau yang sederhana. Ternyata cukup bagus, luas dan memiliki tempat penitipan barang/sepatu. Di balik pintu kaca bergorden hijau di sebelah kiri adalah tempat shalat wanita yang sama juga luasnya. Di bagian luar ada teras 2 meteran sepanjang lebar surau untuk duduk-duduk atau tiduran bagi orang yang ingin istirahat.

Read Full Post »

Atas permintaan teman-teman, aku tuliskan prosedur pengajuan pas tanggungan (dependant pass) bagi anggota keluarga yang ikut pindah mengikuti kepala keluarga yang bekerja di Malaysia. Ini berdasarkan pengalamanku mengajukan pas tanggungan untuk anak dan istri di Jabatan Imigresen Johor Bahru.

Dokumen yang harus disiapkan:
1. Paspor penanggung
2. Izin kerja penanggung
3. Surat keterangan bekerja dari perusahaan si penanggung
4. Paspor keluarga yang akan diajukan untuk memiliki pas tanggungan (tertanggung)
5. Photo tertanggung
6. Tanda pengenal (untuk dewasa)
7. Akte kelahiran/surat kenal lahir (untuk anak)

Proses:
1. Beli formulir-formulir imigrasi di Jabatan Imigresen, isi dan lengkapi.
2. Ajukan semua dokumen (penanggung, tertanggung dan formulir).
3. Bayar bond dan Single Entry Visa.
4. Pembayaran untuk Multiple Entry Visa dilakukan setelah mendapatkan Single Entry Visa.
5. Proses di Jabatan Imigresen akan selesai dalam waktu sekitar 2 minggu.

Biaya-biaya:

1. Formulir imigrasi (#IM 10, IM 38 dan bond) RM 7
2. Stamping (1 set) & Binding (1 set) RM 15
3. Bond RM 100
4. Single Entry Visa (Journey Performed)  
4.1. Visa RM 15
4.2. Process RM 500
5. Multiple Entry Visa (Dependant Pass)  
5.1. Pass RM 180
5.2. Visa RM 30
5.3. Process RM 50

Semua proses, biaya dan dokumen di atas dibuat/dilaksanakan di Johor Bahru.

Jalur lain pengajuan pas tanggungan adalah melalui konsulat Malaysia di Indonesia (seperti di Pekanbaru, Medan, Surabaya, dll). Penanggung (di Malaysia) mengajukan dokumen sampai tahap mendapatkan calling visa. Kemudian dengan menggunakan calling visa tersebut, ajukan permohonan mendapatkan single entry visa ke konsulat Malaysia di Indonesia. Dokumen yang harus dilengkapi adalah calling visa, photo, paspor, tanda pengenal (KTP, KK, surat nikah, dan atau akte kelahiran) serta selembar formulir imigrasi. Biayanya hanya Rp. 3000,- untuk beli formulir dan Rp. 40.000,- untuk biaya proses. Untuk mendapatkan stiker single entry visa, biasanya kita menunggu selama 3 hari.

Selanjutnya, dengan single entry visa (yang berlaku selama 3 bulan) para tertanggung dapat memasuki dan menetap di Malaysia untuk mengurus pembuatan dependant pass (multiple entry visa). Selanjutnya tinggal mengikuti proses #4 dan biaya #5 di atas.

Biaya-biaya di atas belum termasuk biaya transportasi, photocopy dokumen, akomodasi, dll. Silakan kalkulasikan sendiri dan putuskan jalur mana yang akan Anda pilih. Untuk teman-teman yang punya pengalaman sama dan memiliki informasi tambahan, silakan berbagi di sini.

Read Full Post »