Feeds:
Posts
Comments

Transparency International baru saja merilis hasil survey Corruption Perceptions Index 2009. Sebagai negara dimana isu korupsi adalah isu harian yang dipublikasikan begitu gegap gempita di hampir semua media, Indonesia perlu memandang penting peringkat dan indeks yang diberikan oleh lembaga internasional yang memimpin perang melawan korupsi di seluruh dunia ini. Penting dalam hal memandang apakah ada perbaikan atas gerakan anti korupsi yang didengung-dengungkan oleh pemimpin negara. Atau sebagai pembanding apakah mereka hanya pintar bersilat lidah di depan rakyat dari waktu ke waktu tanpa langkah berarti, padahal di belakang itu mereka masih sibuk memperkaya diri pribadi secara bergiliran bahkan bersama-sama.

Berdasarkan hasil survei TI, untuk tahun 2009 ini Indonesia berada di peringkat 111 dari 180 negara bersama dengan 8 negara lainnya. Ini berarti kenaikan yang cukup positif dari peringkat ke 126 (2008) dan ke 147 (2007). Demikian juga untuk skor indeks-nya, tahun 2009 ini menunjukkan perbaikan yaitu 2.8 dibandingkan 2.6 (2008) dan 2.3 (2007). Meski ada peningkatan tidak berarti bahwa Indonesia boleh berpuas diri. Peringkat dan indeks skor yang diperoleh masihlah di zona rendah yang buruk. Masih jauh dari peringkat 1 yang diduduki New Zealand dengan indeks 9.4 atau Denmark di peringkat 2 dengan indeks 9.3 atau dari negara tetangga Singapore yang hanya sepelemparan batu dari pulau Batam itu yang menduduki peringkat ke 3 dengan indeks 9.2 (satu-satunya negara Asia di 10 besar). Apalagi dalam keseharian kita masih melihat praktek-praktek korupsi dan pungli yang terjadi begitu kasat mata, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Indonesia, canangkan terus perang melawan korupsi di seluruh penjuru negeri!

Catatan: klik gambar untuk melihat lebih jelas atau klik langsung tautan ke website Transparency International.

Advertisements

Sampah Tidak Biasa

Barangkali karena sudah sedemikian seringnya terjadi dan capek mengingatkan, pemilik rumah ini membuat pengumuman besar-besar di ATAP rumahnya. Atap

(Untuk yang kurang jelas membacanya, maaf photo ini diambil hanya dengan kamera handphone dari balik kaca, di atap itu tertulis: DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. ROKOK, CD, BH, DLL).

Sepertinya cukup efektif karena pada saat gambar ini diambil tidak nampak sampah-sampah yang dimaksud di atap rumah tersebut.

Yang menggelitik adalah jenis sampah yang ditulis cukup spesifik. Banyak yang membuang  CD (celana dalam) dan BH (bra perempuan) ke atas atap tersebut ternyata! Jenis sampah yang  memang tidak biasa. Dan kenapa dibuangnya ke atap rumah? Lalu sampah apa kira-kira yang dimaksud oleh si pemilik rumah dengan DLL (dan lain-lain)? 😉

Catatan: gambar diambil dari lantai 3 hotel XXXXX  yang berlantai 12 di kota Samarinda, Kalimantan Timur akhir minggu lalu.

*Anda sudah menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas? ;)*

Kampanye Yang Tidak Indah

Saya tak tahu dengan orang lain, tapi bagi saya pemandangan seperti ini terasa mengganggu. Bukan tidak menghormati orang-orang terhormat calon wakil rakyat yang memajang gambarnya di sana, karena tak ada maksud untuk itu. Hanya saja bagi saya, jejeran gambar itu tidak indah. Sungguh tidak indah.

pamflet-caleg

Tak adakah cara berkampanye yang lebih baik dari sistem tradisional ini? Saya kok tiba-tiba membandingkan ini dengan cara kampanye kuno ala Romawi beribu tahun lalu ya? Ah, lupakan saja…

Tidak indah ya tetap tidak indah bagi saya, titik!

Note:  Gambar diambil saat melewati simpang Panbil Muka Kuning, Batam.

Pak De

Aku tak tahu nama ataupun umurnya. Biasanya kusapa ia dengan panggilan Pak De sebagai penghormatan atas usianya yang lebih tua dariku. Perkiraanku, ia sekitar 60 tahun lebih. Kerut-kerut di wajahnya mungkin mengelabui usianya yang sebenarnya, jadi angka umur yang kusebutkan bisa saja lebih kecil atau lebih besar. Yang jelas kerasnya kehidupan yang ia jalani terpatri kuat di tubuh kecilnya yang ringkih. Seolah seluruh beban hidup itu telah meluluhlantakkan semua keperkasaan masa mudanya.

Pak De bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah agensi kontraktor di wilayah Johor Bahru. Ia bekerja di lokasi dimana agensinya sedang memiliki proyek. Dimana dibutuhkan, ke sanalah ia diberangkatkan. Kalau sedang sepi kerjaan, ia tak pergi bekerja (yang berarti tak ada penghasilan). Pak De tinggal di salah satu unit apartemen milik bossnya di blok yang bersebelahan dengan blok tempat tinggalku. Satu kamar ia huni bersama beberapa orang, disewakan per bulan dengan sistem potong gaji. Setiap pagi ada bus pekerja yang datang menjemput dan mengantarkannya kembali pulang di kala malam menjelang. Transportasi ini juga dibayar dengan sistem potong gaji.

Sudah 3 tahun ia bekerja di agensi itu dengan dua kali sempat pulang ke kampung halamannya di Ponorogo, di Jawa Tengah sana. Waktu yang sudah cukup panjang, tapi tidak membuatnya lebih sejahtera dari saat ia berangkat merantau 3 tahun lalu. Ia bilang kehidupannya begitu-begitu saja, hanya cukup untuk makan. Kerja keras dengan penghasilan sedikit karena banyak potongan, begitu katanya menggambarkan.

Dari mulutnya aku mengetahui beberapa hal yang memprihatinkan. Banyak cerita sedih seputar TKI yang pernah kudengar. Cerita Pak De adalah bentuk lainnya bagaimana permainan pihak agensi dalam memeras dan menipu mereka.

Dalam pembayaran pajak levi misalnya, ia dibebani biaya 2 kali lipat. Seumpama levi satu tahun adalah RM1200 (pada kurs RM1=Rp 3000, setara dengan Rp 3.600.000), maka ia dikenai kewajiban membayar RM2400. Pada agensi atau perusahaan yang baik, levi dapat dicicil selama 1 tahun. Di agensi tempat Pak De ini, levi harus lunas dalam 6 bulan! Artinya ia dibuat bekerja 2 kali lebih keras agar dapat menyelesaikan pembayaran 2 kali lebih cepat dibandingkan orang lain!

Paspornya pernah ‘hilang’ sekali. Bukan ia yang menghilangkan, tetapi pihak agensi. Selama masa kontrak kerja dengan agensi, paspor ditahan dan disimpan oleh agensi. Tetapi pihak agensi tidak mau bertanggung jawab atas ‘kehilangan’ itu! Demi keamanan dan keselamatannya di negeri orang, ia ‘disarankan’ untuk membuat paspor baru melalui agensi. Pak De diharuskan merogoh kocek dan membayar sendiri biaya pembuatan paspor baru.

Karena memiliki paspor baru, ‘tentunya’ ia harus punya permit kerja yang baru lagi. Ia kembali harus membayar semua biaya permit, termasuk levi. Begitu agensi itu berkata. Akibatnya, ia kembali harus menanggung beban biaya 2 kali lipat itu dan kembali harus melunasi dalam waktu singkat!

Sebuah lingkaran setan pemerasan yang hanya dapat dilakukan oleh agensi berhati setara setan pemakan keringat dan darah manusia! Atas nama uang dan keserakahan, mereka melupakan kemanusiaan.

Pak De ingin bisa menabung atas jerih payahnya bekerja jauh di rantau orang. Bukan menjadi sapi perahan yang bekerja untuk agensi keparat. Ia ingin lepas dari kontrak dengan agensinya sekarang. Tapi ia tak tahu bagaimana melepaskan diri. Bahkan sampai saat terakhir kami berjumpa sebelum ia dipindahrumahkan ke lokasi yang ia sendiri belum tahu, ia hanya bisa pasrah. Saranku agar ia mengadu ke konsulat hanya ditanggapinya dengan wajah bingung, “aku iki wong bodo, Mas, ora ngerti sing koyo’ ngono“.

Hati-hati Pak De, do’aku untuk kesehatan dan keselamatanmu selalu dimanapun kau berada sekarang! Insya Allah, seperti yang pernah kau sebut, “Gusti Allah ora sare!” jalan keluar segera diberikan padamu olehNya. Dan semoga kerinduanmu untuk bisa pulang kembali ke Jawa segera terobati. Yang jelas, aku tak akan lupa padamu. Seperti aku juga tak akan lupa pada singkong segar hasil olah kebun yang engkau kerjakan di sela-sela waktu kosong, yang tak lupa selalu engkau letakkan di depan pintu rumahku setiap kali engkau memanennya. Ah ya… betapa singkong adalah perlambang tepat bagi kesederhanaanmu, Pak De.

Maggi Ala Indon

maggi-ala-indon1Rasa adalah persoalan selera. Tiap orang punya cita tersendiri. Demikian juga bangsa. Tak terkecuali pada makanan. Meski itu berupa mie istant. Bahkan pada tingkatan tertentu ia adalah identitas. Yang lekat sebagai bagian dari kehidupan anak kost, mahasiswa perantauan, pekerja kerah biru atau bahkan pada anak-anak.

Meski jauh dari kampung halaman, terkadang ia tak dapat dikompromikan. Banyak cerita kita dengar tentang orang Indonesia yang membawa perbekalan makanan ke luar negeri. Sesekali pulang tentu bukan masalah. Namun jika tiap sebentar harus pulang ke Indonesia hanya untuk sekedar menikmati makanan tentulah akan berat di sisi biaya. Di sanalah pengusaha membaca peluang dan menjadikannya mesin uang. Terciptalah antara lain produk-produk makanan, seperti mie instant berlabel Maggi ini, bercita rasa kampung halaman di negeri tetangga.

Produsen mie ini memasang tulisan ‘ala Indon’ di kemasan luarnya. Ia jelas bukan yang pertama karena produsen mie lain juga melakukan hal yang sama. Pasar yang dituju sungguh besar di negeri ini dan potensial. Jadi dipajanglah ia untuk menarik perhatian ‘orang Indon’, salah satunya di kedai runcit di ujung Johor Bahru tempat saya mengambil gambar.

maggi-ala-indon2

Terserah Anda untuk memilih dan mencicipi, apakah betul rasanya sama dengan mie instant favorit Anda di Indonesia ataukah tidak. Kalau saya, sampai sekarang masih memilih untuk menggotong satu kotak mie setiap kali saya mampir ke Batam.

Ya, rasa memang soal selera. Dan selera saya masih terikat pada yang asli dari negeri sendiri, bukan pada yang ‘ala Indon’.

Panggilan Illahi

panggilan1

Sungguh benar ajakan menonaktifkan telepon genggam di masjid ini. Tulisannya bukan sebuah larangan untuk mengunakan atau saran untuk mematikan nada panggil seperti biasa kita jumpai di masjid-masjid lain. Yang ini sangat menyentuh bagi saya.

Sungguh benar, tiada panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah! Bukan deringan telepon atau tanda pesan masuk yang harus didengar/mendapatkan perhatian kita di kala shalat dan beribadah. Sekecil apapun suara yang timbul atau getaran yang dihasilkan, jelas itu akan memecah konsentrasi ibadah dan kekhusu’an shalat kita.

Jadi, mari matikan handphone Anda di dalam masjid. Sepenting apapun Anda dan urusan di luar sana, panggilan Allah adalah yang paling utama.

Photo diambil di Masjid Jamek Ungku Tun Aminah di Johor Bahru.

vietnam-aff-2008My Dinh National Stadium di kota Hanoi serasa meledak dan penuh gegap gempita oleh teriakan kegembiraan para pendukung kesebelasan nasional Vietnam tadi malam setelah Le Cong Vinh berhasil membelokkan arah bola tendangan bebas yang dilakukan oleh Nguyen Minh Phuong dan menjadikannya sebuah gol. Gol tersebut menyamakan kedudukan pertandingan menjadi 1-1 melawan kesebelasan nasional Thailand yang berarti membuat agregat 2 kali pertandingan menjadi 3-2 untuk kemenangan Vietnam. Sebuah sejarah sepakbola baru tercipta bagi Vietnam, berhasil menjuarai turnamen AFF Cup 2008 setelah dalam 6 kali penyelenggaraan sebelumnya dikuasai secara bergiliran oleh Thailand dan Singapura.

Yang begitu terasa istimewa dari gol tersebut adalah bahwa ia tercipta di menit terakhir injury time pertandingan. Sungguh wajar stadion My Dinh meledak oleh kegembiraan setelah puluhan ribu supporter Vietnam bersabar menunggu terciptanya gol tersebut sejak menit awal. Berulangkali serangan balik mereka mengancam gawang Thailand, terutama di babak kedua, namun tidak berhasil menciptakan gol.

Vietnam bermain dengan determinasi tinggi, penuh semangat, saling membahu, konsisten dengan pola yang diterapkan pelatih Henrique Calisto, serta tajam dan cepat menusuk (terutama dari sayap kanan) yang didukung oleh seluruh lini. Inilah yang membuat mereka dapat mengimbangi permainan cantik dan kemampuan individu kesebelasan Thailand yang di atas kertas lebih baik dari Vietnam.

Vietnam pantas untuk menjuarai turnamen AFF Cup ini. Grafik penampilan mereka yang dicermati sejak dari babak penyisihan grup terus meningkat. Vietnam muncul sebagai runner up grup di bawah Thailand. Kemudian di kandang sendiri menahan imbang Singapura dengan hasil seri 0-0. Dilanjutkan dengan membungkam The Lion di Singapura pada leg kedua 1-0 untuk memastikan posisi maju ke babak final. Selanjutnya, mereka tanpa ampun menaklukkan tim Gajah Putih di Thailand dengan skor 2-1 pada leg pertama final.

Photo diambil dari sini.