Telah kami angkat Tuan sebagai pemimpin kami, menjadi Tuanku yang digugu. Kami ingin Tuanku pantas kami tiru. Kami ingin Tuanku teguh dan kuat. Kami ingin Tuanku tegar dan berani. Dalam apapun yang Tuanku pikirkan, lakukan, dan katakan.
Hari-hari ini kami lihat Tuanku seperti pemain sandiwara. Tuanku mengeluh. Tuanku bersedih. Tuanku mengadu. Tuanku banyak bicara. Tuanku membuat kami cemas.
Kami tidak ingin Tuanku begitu. Janganlah membuat seolah Tuanku terpojok. Seolah tengah dirongrong sesuatu. Yang entah ada atau benar. Padahal ada kami di sini mendukung Tuanku. Dan kami tidak melihat apa-apa. Seperti yang Tuanku lihat di atas sana. Tinggi sendiri bak elang yang tak pernah berkelompok mungkin memang sepi. Tapi itu bukanlah alasan untuk membuat kami khawatir.
Jangan sampai kami berpikir, Tuanku hanya mencari-cari alasan atau justru sedang menakut-nakuti kami.
Kami tak butuh penjelasan lebih, buatlah diri Tuan menjadi Tuanku yang sesungguhnya bagi kami. Kami adalah bagian dari sejarah yang sedang Tuanku tulis, maka itu hargai juga hormat kami. Seperti yang pernah kami berikan kepada pendahulu-pendahulu Tuanku yang pemberani.
Kalau tidak, maafkan kami menganggap Tuanku cengeng dan tak pantas lagi kami Pertuan.