Siang November yang terik. Lalu lalang kendaraan yang melewati halte tanpa atap itu menyebabkan debu-debu terangkat naik dan menyebar. Beberapa orang yang berdiri di situ menutup mulut dan hidungnya untuk menepis debu. Sebagian yang lain tidak peduli. Malah membuka mulutnya untuk menimpali obrolan temannya yang sedang menceritakan sesuatu. Sementara seseorang tengah asyik mengelap sepeda motornya. Ada beberapa sepeda motor juga sedang diparkir di sana. Menunggu penumpang. Seperti di banyak tempat, halte itu adalah juga pangkalan ojek.
Dari seberang jalan, aku melambaikan tangan. Salah seorang di sana menanggapi dengan mengangkat tangannya dan kemudian berpaling ke sebuah papan. Lalu ia bangkit dan menepuk pundak temannya. Sepertinya giliran mengangkut penumpang berikutnya ada pada orang tersebut. Tubuhnya kecil dan nampak sudah tua. Kuamati ia menuntun sepeda motornya keluar dari halte dan bergerak ke arahku. Kulihat seperti ada yang salah dari caranya membawa motor, agak goyah.
“Kantor Pos Juanda, Pak!” kataku padanya menyebutkan tujuan. Panggilan ‘Pak’ atasnya adalah setelah aku melihat kerut-kerut di wajah dan tangannya, pertanda usia yang telah jauh berjalan. Dari balik kaca helm yang diberikannya, aku melihat bapak pengojek ini mengangguk mengerti. Kamipun berangkat.
Baru saja jalan beberapa puluh meter aku sudah merasa tidak nyaman diboncengi. Sepeda motor berjalan tidak stabil, goyah seperti orang yang baru belajar berkendara. Kemudian karena si bapak mengambil jalan agak ke tengah padahal jalanan sedang ramai sehingga membahayakan. Lagipula gigi yang dipakai tidak sesuai dengan kecepatan kendaraan sehingga jalannya motor kadang tersendat-sendat atau malahan mesin menggerung terlalu tinggi.
Pelan kutepuk pundak si bapak, “Pak, motornya kenapa? Kok jalannya begini?” tanyaku. “Ngga’ apa-apa, Nak. Kita ke tepi dulu ya” katanya menepikan kendaraan. Keningku berkerut bertanya-tanya. Tidak apa-apa kok jalannya ngga’ benar, lalu tiba-tiba minta menepi, ada apa? Sesampainya di pinggir jalan, aku turun dari boncengan dan berdiri di samping si bapak.
“Anak saja yang bawa motornya, saya di belakang saja” pinta si bapak, “saya belum biasa memakai motor ini.” Gubrak… tukang ojek kok ngga’ biasa bawa motor?! pikirku. Masa penumpang yang boncengin tukang ojeknya? Aneh banget ‘kan? Namun demi mengingat keperluan ke kantor pos dan ingin tahu bagaimana kisahnya si bapak ini, aku bersedia bertukar tempat. Lagipula kemudian aku juga memikirkan keselamatan si bapak saat kembali ke pangkalannya yang tak jauh dari kantorku yang harus melewati jalan dan perempatan yang ramai, aku berniat untuk memboncengkannya kembali. Toh tujuanku keluar kantor hari ini memang hanya ke kantor pos, tidak kemana-mana lagi.
Singkat cerita, di saat menunggu antrian pembayaran kantor pos yang cukup panjang, aku berbincang-bincang dengan pak Umar, bapak pengojek tadi. Kubelikan teh botol dingin untuknya dan sebotol air mineral untukku sendiri sebagai pelepas dahaga di siang yang terik itu.
“Saya baru hari ini mengojek, Nak. Sepedanya juga dapat minjam dari tetangga sebelah.” Pak Umar berkata sambil melepas jaketnya. Kuperhatikan baju kaus yang dipakainya sudah tak jelas warnanya, mungkin dulunya hijau yang makin lama makin memudar setelah sekian tahun dipakai. Celana kain yang dipakainya juga sudah tua. Dengan sandal jepit bertali biru menghiasi kakinya, potret pak Umar yang tua, miskin dan kenyang dengan kerasnya jalan hidup yang dijalani nampak makin sempurna.
“Sebelumnya bapak kerja apa?” tanyaku sambil menghela nafas, kasihan pada sosoknya, “berbahaya lho pak menjadi tukang ojek kalau bapak tidak menguasai motor dengan baik. Bapak bisa celaka di jalan raya.”
“Anak benar. Sebetulnya saya ini biasa jaga warung saja di rumah, dengan istri. Tapi saya sudah berniat, jadi saya akan cukupi dengan menjadi tukang ojek” pak Umar berkata sambil duduk di tembok pembatas teras kantor pos. Dari teras luar ini aku bisa melihat nomor antrian berapa yang sedang dilayani sekarang. Nomor antrianku masih lama, jadi aman-aman saja kalau kami menunggu di luar.
“Niat apa, Pak?”
“Ya cari duit, buat nambahin beli kambing. Saya berniat qurban tahun ini, Nak.”
“Kalau belum cukup ‘kan ngga’ apa-apa ngga’ ikut qurban, Pak” kataku.
“Kalau ngga’ diniatin ya begitu-begitu terus, Nak. Ngga’ bakalan pernah bisa berqurban. Tiap tahun saya menghibur diri dengan apa yang barusan Anak katakan. Sampai sekarang, ngga’ pernah terlaksana. Duit yang saya simpan-simpan setiap hari, habis saja dipakai. Buat makanlah, buat bayar sekolah anaklah, macam-macam pokoknya… Akhirnya ya tetap aja ngga’ kebeli kambing!”
“Terus Bapak ngojek buat beli kambing itu?”
“Buat tambahannya. 3 hari yang lalu Bapak sudah melihat-lihat di tempat penjualan hewan qurban, ternyata duit yang selama ini Bapak sisihin dari keuntungan warung tiap hari belum cukup. Makanya Bapak ngojek. Kebetulan tetangga Bapak ngijinin motornya dipinjam, asalkan dijaga baik-baik.” jawab Pak Umar sambil kembali menyedot teh botolnya.
“Oh begitu. Maaf kalau boleh tahu, memangnya kurang berapa lagi Pak?”
“Dua ratus ribu lagi. Tapi susah nyari duit sebanyak itu sekarang. Apalagi waktu qurban sudah semakin dekat. Bapak tidak akan bisa berqurban lagi tahun ini…” jawabnya lirih sambil menundukkan kepala. Nampaknya ia menyesal sekali tidak akan dapat menunaikan niatnya. “Saya sudah tua, waktu saya di dunia ini mungkin tak lama lagi. Saya ingin sekali bisa berqurban. Sekali saja seumur hidup juga tak apa-apa asalkan saya pernah. Kelak nanti saya bisa jawab ketika malaikat bertanya apakah saya pernah berqurban atau tidak. Saya ingin pintu-pintu rahmat terbuka luas bagi saya dan keluarga. Saya ingin dido’akan..…” kalimat pak Umar terputus, suaranya tercekat.
Aku tercenung. Begitu besarnya keinginan pak Umar ini untuk berqurban, sampai-sampai ia siap menghadapi resiko mencari tambahan uang dengan mengojek, yang sama sekali belum pernah ia jalani.
“Pada setiap tanduk, kaki atau potongan tubuhnya, akan ada pembelaan atas dosa-dosa kita, Nak. Pada setiap helai bulu hewan yang kita qurbankan, akan ada kesaksian atas keikhlasan kita. Pada tetesan darahnya akan ada pengakuan atas ketaqwaan kita. Besar sekali pahala berqurban itu, besar sekali….” Pak Umar semakin kehilangan kata-katanya.
Dan aku pun ikut kehilangan kata-kata. Untuk bersedekah biasa saja tidak terpikir olehku, apalagi berqurban. Padahal gajiku jelas-jelas cukup untuk membeli seekor kambing tanpa harus mengorbankan berbagai kebutuhanku yang lainnya. Jika diniatkan, aku bahkan sanggup berqurban sapi kalau tiap bulan uangku disisihkan selama satu tahun. Tapi tak pernah ada bersitan niat itu di pikiranku. Sungguh berbeda dengan pak Umar yang rela menyisihkan penghasilan warungnya yang sedikit itu demi bisa berqurban. Bahkan mengambil resiko menjadi tukang ojek agar dapat mencukupi kekurangannya. Benar-benar kontradiksi yang menjungkirbalikkan pemikiranku atas nilai-nilai penting dalam kehidupan dan tingkat keyakinan spiritualitas.
Sepulang mengantar pak Umar ke warungnya, mataku berkaca-kaca. Bahkan dengan kondisi rumah dan warung yang begitu sederhana, hati pak Umar bagaikan berlian yang berkilau di tengah himpitan kesulitan-kesulitan hidupnya. Ia masih mau berqurban dan memikirkan saudara-saudaranya yang lain yang lebih menderita dibandingkan untuk mencukupi dirinya sendiri. Maka apalah artinya sejumlah uang yang kuraih seasalnya dari dompetku, yang membuat tangan dan bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca itu. Masih terngiang di telingaku kata-kata pak Umar pada istrinya saat aku melangkah pergi, “Alhamdulillah buk, kita bisa berqurban tahun ini! Alhamdulillah… terima kasih ya Allah…!”