Feeds:
Posts
Comments

Sampah Tidak Biasa

Barangkali karena sudah sedemikian seringnya terjadi dan capek mengingatkan, pemilik rumah ini membuat pengumuman besar-besar di ATAP rumahnya. Atap

(Untuk yang kurang jelas membacanya, maaf photo ini diambil hanya dengan kamera handphone dari balik kaca, di atap itu tertulis: DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. ROKOK, CD, BH, DLL).

Sepertinya cukup efektif karena pada saat gambar ini diambil tidak nampak sampah-sampah yang dimaksud di atap rumah tersebut.

Yang menggelitik adalah jenis sampah yang ditulis cukup spesifik. Banyak yang membuang  CD (celana dalam) dan BH (bra perempuan) ke atas atap tersebut ternyata! Jenis sampah yang  memang tidak biasa. Dan kenapa dibuangnya ke atap rumah? Lalu sampah apa kira-kira yang dimaksud oleh si pemilik rumah dengan DLL (dan lain-lain)? ;)

Catatan: gambar diambil dari lantai 3 hotel XXXXX  yang berlantai 12 di kota Samarinda, Kalimantan Timur akhir minggu lalu.

*Anda sudah menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas? ;) *

Kampanye Yang Tidak Indah

Saya tak tahu dengan orang lain, tapi bagi saya pemandangan seperti ini terasa mengganggu. Bukan tidak menghormati orang-orang terhormat calon wakil rakyat yang memajang gambarnya di sana, karena tak ada maksud untuk itu. Hanya saja bagi saya, jejeran gambar itu tidak indah. Sungguh tidak indah.

pamflet-caleg

Tak adakah cara berkampanye yang lebih baik dari sistem tradisional ini? Saya kok tiba-tiba membandingkan ini dengan cara kampanye kuno ala Romawi beribu tahun lalu ya? Ah, lupakan saja…

Tidak indah ya tetap tidak indah bagi saya, titik!

Note:  Gambar diambil saat melewati simpang Panbil Muka Kuning, Batam.

Pak De

Aku tak tahu nama ataupun umurnya. Biasanya kusapa ia dengan panggilan Pak De sebagai penghormatan atas usianya yang lebih tua dariku. Perkiraanku, ia sekitar 60 tahun lebih. Kerut-kerut di wajahnya mungkin mengelabui usianya yang sebenarnya, jadi angka umur yang kusebutkan bisa saja lebih kecil atau lebih besar. Yang jelas kerasnya kehidupan yang ia jalani terpatri kuat di tubuh kecilnya yang ringkih. Seolah seluruh beban hidup itu telah meluluhlantakkan semua keperkasaan masa mudanya.

Pak De bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah agensi kontraktor di wilayah Johor Bahru. Ia bekerja di lokasi dimana agensinya sedang memiliki proyek. Dimana dibutuhkan, ke sanalah ia diberangkatkan. Kalau sedang sepi kerjaan, ia tak pergi bekerja (yang berarti tak ada penghasilan). Pak De tinggal di salah satu unit apartemen milik bossnya di blok yang bersebelahan dengan blok tempat tinggalku. Satu kamar ia huni bersama beberapa orang, disewakan per bulan dengan sistem potong gaji. Setiap pagi ada bus pekerja yang datang menjemput dan mengantarkannya kembali pulang di kala malam menjelang. Transportasi ini juga dibayar dengan sistem potong gaji.

Sudah 3 tahun ia bekerja di agensi itu dengan dua kali sempat pulang ke kampung halamannya di Ponorogo, di Jawa Tengah sana. Waktu yang sudah cukup panjang, tapi tidak membuatnya lebih sejahtera dari saat ia berangkat merantau 3 tahun lalu. Ia bilang kehidupannya begitu-begitu saja, hanya cukup untuk makan. Kerja keras dengan penghasilan sedikit karena banyak potongan, begitu katanya menggambarkan.

Dari mulutnya aku mengetahui beberapa hal yang memprihatinkan. Banyak cerita sedih seputar TKI yang pernah kudengar. Cerita Pak De adalah bentuk lainnya bagaimana permainan pihak agensi dalam memeras dan menipu mereka.

Dalam pembayaran pajak levi misalnya, ia dibebani biaya 2 kali lipat. Seumpama levi satu tahun adalah RM1200 (pada kurs RM1=Rp 3000, setara dengan Rp 3.600.000), maka ia dikenai kewajiban membayar RM2400. Pada agensi atau perusahaan yang baik, levi dapat dicicil selama 1 tahun. Di agensi tempat Pak De ini, levi harus lunas dalam 6 bulan! Artinya ia dibuat bekerja 2 kali lebih keras agar dapat menyelesaikan pembayaran 2 kali lebih cepat dibandingkan orang lain!

Paspornya pernah ‘hilang’ sekali. Bukan ia yang menghilangkan, tetapi pihak agensi. Selama masa kontrak kerja dengan agensi, paspor ditahan dan disimpan oleh agensi. Tetapi pihak agensi tidak mau bertanggung jawab atas ‘kehilangan’ itu! Demi keamanan dan keselamatannya di negeri orang, ia ‘disarankan’ untuk membuat paspor baru melalui agensi. Pak De diharuskan merogoh kocek dan membayar sendiri biaya pembuatan paspor baru.

Karena memiliki paspor baru, ‘tentunya’ ia harus punya permit kerja yang baru lagi. Ia kembali harus membayar semua biaya permit, termasuk levi. Begitu agensi itu berkata. Akibatnya, ia kembali harus menanggung beban biaya 2 kali lipat itu dan kembali harus melunasi dalam waktu singkat!

Sebuah lingkaran setan pemerasan yang hanya dapat dilakukan oleh agensi berhati setara setan pemakan keringat dan darah manusia! Atas nama uang dan keserakahan, mereka melupakan kemanusiaan.

Pak De ingin bisa menabung atas jerih payahnya bekerja jauh di rantau orang. Bukan menjadi sapi perahan yang bekerja untuk agensi keparat. Ia ingin lepas dari kontrak dengan agensinya sekarang. Tapi ia tak tahu bagaimana melepaskan diri. Bahkan sampai saat terakhir kami berjumpa sebelum ia dipindahrumahkan ke lokasi yang ia sendiri belum tahu, ia hanya bisa pasrah. Saranku agar ia mengadu ke konsulat hanya ditanggapinya dengan wajah bingung, “aku iki wong bodo, Mas, ora ngerti sing koyo’ ngono“.

Hati-hati Pak De, do’aku untuk kesehatan dan keselamatanmu selalu dimanapun kau berada sekarang! Insya Allah, seperti yang pernah kau sebut, “Gusti Allah ora sare!” jalan keluar segera diberikan padamu olehNya. Dan semoga kerinduanmu untuk bisa pulang kembali ke Jawa segera terobati. Yang jelas, aku tak akan lupa padamu. Seperti aku juga tak akan lupa pada singkong segar hasil olah kebun yang engkau kerjakan di sela-sela waktu kosong, yang tak lupa selalu engkau letakkan di depan pintu rumahku setiap kali engkau memanennya. Ah ya… betapa singkong adalah perlambang tepat bagi kesederhanaanmu, Pak De.

Maggi Ala Indon

maggi-ala-indon1Rasa adalah persoalan selera. Tiap orang punya cita tersendiri. Demikian juga bangsa. Tak terkecuali pada makanan. Meski itu berupa mie istant. Bahkan pada tingkatan tertentu ia adalah identitas. Yang lekat sebagai bagian dari kehidupan anak kost, mahasiswa perantauan, pekerja kerah biru atau bahkan pada anak-anak.

Meski jauh dari kampung halaman, terkadang ia tak dapat dikompromikan. Banyak cerita kita dengar tentang orang Indonesia yang membawa perbekalan makanan ke luar negeri. Sesekali pulang tentu bukan masalah. Namun jika tiap sebentar harus pulang ke Indonesia hanya untuk sekedar menikmati makanan tentulah akan berat di sisi biaya. Di sanalah pengusaha membaca peluang dan menjadikannya mesin uang. Terciptalah antara lain produk-produk makanan, seperti mie instant berlabel Maggi ini, bercita rasa kampung halaman di negeri tetangga.

Produsen mie ini memasang tulisan ‘ala Indon’ di kemasan luarnya. Ia jelas bukan yang pertama karena produsen mie lain juga melakukan hal yang sama. Pasar yang dituju sungguh besar di negeri ini dan potensial. Jadi dipajanglah ia untuk menarik perhatian ‘orang Indon’, salah satunya di kedai runcit di ujung Johor Bahru tempat saya mengambil gambar.

maggi-ala-indon2

Terserah Anda untuk memilih dan mencicipi, apakah betul rasanya sama dengan mie instant favorit Anda di Indonesia ataukah tidak. Kalau saya, sampai sekarang masih memilih untuk menggotong satu kotak mie setiap kali saya mampir ke Batam.

Ya, rasa memang soal selera. Dan selera saya masih terikat pada yang asli dari negeri sendiri, bukan pada yang ‘ala Indon’.

Panggilan Illahi

panggilan1

Sungguh benar ajakan menonaktifkan telepon genggam di masjid ini. Tulisannya bukan sebuah larangan untuk mengunakan atau saran untuk mematikan nada panggil seperti biasa kita jumpai di masjid-masjid lain. Yang ini sangat menyentuh bagi saya.

Sungguh benar, tiada panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah! Bukan deringan telepon atau tanda pesan masuk yang harus didengar/mendapatkan perhatian kita di kala shalat dan beribadah. Sekecil apapun suara yang timbul atau getaran yang dihasilkan, jelas itu akan memecah konsentrasi ibadah dan kekhusu’an shalat kita.

Jadi, mari matikan handphone Anda di dalam masjid. Sepenting apapun Anda dan urusan di luar sana, panggilan Allah adalah yang paling utama.

Photo diambil di Masjid Jamek Ungku Tun Aminah di Johor Bahru.

vietnam-aff-2008My Dinh National Stadium di kota Hanoi serasa meledak dan penuh gegap gempita oleh teriakan kegembiraan para pendukung kesebelasan nasional Vietnam tadi malam setelah Le Cong Vinh berhasil membelokkan arah bola tendangan bebas yang dilakukan oleh Nguyen Minh Phuong dan menjadikannya sebuah gol. Gol tersebut menyamakan kedudukan pertandingan menjadi 1-1 melawan kesebelasan nasional Thailand yang berarti membuat agregat 2 kali pertandingan menjadi 3-2 untuk kemenangan Vietnam. Sebuah sejarah sepakbola baru tercipta bagi Vietnam, berhasil menjuarai turnamen AFF Cup 2008 setelah dalam 6 kali penyelenggaraan sebelumnya dikuasai secara bergiliran oleh Thailand dan Singapura.

Yang begitu terasa istimewa dari gol tersebut adalah bahwa ia tercipta di menit terakhir injury time pertandingan. Sungguh wajar stadion My Dinh meledak oleh kegembiraan setelah puluhan ribu supporter Vietnam bersabar menunggu terciptanya gol tersebut sejak menit awal. Berulangkali serangan balik mereka mengancam gawang Thailand, terutama di babak kedua, namun tidak berhasil menciptakan gol.

Vietnam bermain dengan determinasi tinggi, penuh semangat, saling membahu, konsisten dengan pola yang diterapkan pelatih Henrique Calisto, serta tajam dan cepat menusuk (terutama dari sayap kanan) yang didukung oleh seluruh lini. Inilah yang membuat mereka dapat mengimbangi permainan cantik dan kemampuan individu kesebelasan Thailand yang di atas kertas lebih baik dari Vietnam.

Vietnam pantas untuk menjuarai turnamen AFF Cup ini. Grafik penampilan mereka yang dicermati sejak dari babak penyisihan grup terus meningkat. Vietnam muncul sebagai runner up grup di bawah Thailand. Kemudian di kandang sendiri menahan imbang Singapura dengan hasil seri 0-0. Dilanjutkan dengan membungkam The Lion di Singapura pada leg kedua 1-0 untuk memastikan posisi maju ke babak final. Selanjutnya, mereka tanpa ampun menaklukkan tim Gajah Putih di Thailand dengan skor 2-1 pada leg pertama final.

Photo diambil dari sini.

Tahun Baru 1430H

Hari ini adalah tanggal 1 Muharram 1430H pada penanggalan Islam. Bagi umat Islam yang merayakan: Selamat Tahun Baru Hijriah 1430H!!

Seperti saya tulis di sini, ini adalah perayaan tahun baru Hijriah kedua kalinya di dalam sebuah tahun Masehi (1 Muharram 1429H jatuh pada 10 Januari 2008 dan 1 Muharram 1430H jatuh hari ini 29 Desember 2008)! Sebuah peristiwa yang hanya akan terulang dalam siklus waktu 33 atau 34 tahun sekali! Jika Anda berumur panjang, maka paling banyak Anda hanya akan dapat menemui 3 kali peristiwa seperti ini seumur hidup Anda. Sangat jarang terjadi dan istimewa sekali.

Berarti, sebuah tahun baru yang layak untuk dirayakan, bukan?

Sekali lagi, selamat tahun baru Hijriah!

Muon Nam, Vietnam!

Saat bus pekerja sampai di kilang pagi tadi, ada hal menarik saat melihat gadis-gadis operator berkebangsaan Vietnam turun dari bus. Hampir semua mereka mengenakan pakaian berwarna atasan putih dan bawahan hitam. Ada yang hanya berkaos putih tapi ada juga yang nampak lebih resmi mengenakan Áo Dài (pakaian tradisional semacam baju kurung ala Vietnam). Dan hampir semuanya juga menempelkan bendera kebangsaan di dada kiri atau di kerah kiri bajunya. Setelah kutanya pada salah seorang dari mereka, ternyata hari ini adalah Qouc Khanh (Hari Kemerdekaan) negara Republik Sosialis Vietnam.

Pekerja Vietnam adalah bagian terbesar dari pekerja asing di pabrik kami. Beberapa diantaranya sudah bekerja lebih dari 3 tahun di Malaysia (sejak dari pabrik Cemerlang, Ulu Tiram-JB). Tipe pekerja keras (selalu siap untuk bekerja lembur), santun, fokus dan cepat dalam melakukan pekerjaan, meski juga tidak selalu menurut pada instruksi yang diberikan (yang bisa disebabkan oleh kendala bahasa). Jika sudah sering berkomunikasi dengan mereka, pertemanan bisa sangat baik dan akrab, meski pada awalnya mereka terkesan tertutup. Tak segan-segan mereka akan menyapa, meski jenjang jabatan terentang cukup jauh. Untuk yang sering bergaul dengan mereka, tipikal wajahnya yang khas tak akan disalahkira dengan warga dari semenanjung Indocina lainnya.

Hari ini ada hembusan solidaritas yang berbeda muncul di pabrik yang mengatapi 7 kewarganegaraan ini. Banyak pekerja asing dari negara lain, seperti Nepal, Indonesia, Philipina, dan Singapore serta warga lokal Malaysia sendiri yang ikut menempelkan bendera Vietnam di dadanya. Padahal saat Singapore merayakan hari kemerdekaan pada 9 Agustus, Indonesia pada 17 Agustus dan Malaysia pada 31 Agustus, solidaritas yang sama tidak muncul. Hanya warga dari masing-masing negaralah yang menempelkan bendera kebangsaannya di pakaian kerja. Bahkan tak kulihat ada pekerja/staf berkebangsaan Singapore yang menunjukkan patriotisme seperti itu saat hari kemerdekaan mereka pada 9 Agustus lalu. Tapi hari ini berbeda, dukungan solidaritas nampak ditunjukkan oleh semua. Dan ini membuat wajah-wajah para pekerja Vietnam penuh senyum dan ramah hari ini!

Muon nam, Vietnam!

Selamat hari kemerdekaan.

Ghost festival dalam tradisi Budha China sebenarnya adalah penghormatan terhadap arwah para  leluhur. Kepada arwah leluhur dikirimkan kebutuhan-kebutuhan harian mereka di alam sana yang dipercayai sama seperti kebutuhan manusia di kehidupan dunia. Jadi makanan, pakaian, kendaraan, sampai uang pun dikirimkan. Caranya? Replika dari itu semua dibuat kemudian dibakar dan ditujukan agar sampai kepada para arwah yang dimaksudkan oleh masing-masing orang yang mendo’akan.

Seperti tahun lalu, grup perusahaan dimana aku bekerja kembali mengadakan upacara sembahyang hantu (begitu biasanya upacara ini disebut) di area lapang antara bangunan pabrik satu dan pabrik dua. 4 tenda besar dipasang sejak kemarin sore.  Ada 3 patung kayu berukiran naga dengan warna-warna indah yang terbakar mulai pagi tadi. Puluhan kantong plastik besar berisi kertas uang surga, makanan-makanan yang akan dikirimkan, buah-buahan, minuman, replika kendaraan, dll semua disusun di atas meja persembahyangan. Tak ketinggalan juga bendera-bendera kecil (pengganti Tuhan sebagai penjaga?) berkibar di tiap-tiap meja. Serta tentu saja dupa hio yang terbakar tak henti-hentinya menyebarkan asap.

Selain untuk menghormati arwah leluhur, sembahyang hantu juga dimaksudkan sebagai perjamuan kepada fakir miskin. Jamuan ini ditandai dengan sembahyang rebutan terhadap makanan sembahyang setelah penghormatan selesai diadakan. Di pabrik kami tidak ada acara rebutan makanan, tapi diganti dengan jamuan makan siang untuk seluruh karyawan secara gratis.

08-08-08 @ 08:08

Ah, hanya sebuah angka saja. Yang kebetulan sama, jatuh pada hari ini.

Jam delapan lebih delapan menit pada hari ke delapan di bulan ke delapan pada tahun dua ribu delapan.

Ingin mengartikan lebih? Sebaiknya jangan, karena tak ada manfaatnya.

Ini pun masuk sebagai catatan di sini sebagai pengingat bahwa waktu tak pernah mati. Keniscayaan yang berbanding terbalik dengan pastinya hidup manusia yang berujung pada mati. Dan setiap kumpulan waktu, entah itu angka yang istimewa atau tidak, adalah kendaraan yang melaju ke satu titik: liang kubur.

Siap?

Older Posts »