Feeds:
Posts
Comments

Titah

Sebuah titah adalah bukti kecerahan jiwa baginda di atas mendung pemikiran rakyatnya. Jika baginda telah bertitah, kecamuk pikiran rakyat akan tersapu bersih dan mereka bergerak sesuai titah. Jika baginda telah bertitah, gejolak emosi rakyat redam dan mereka mengangguk patuh. Jika baginda telah bertitah, rakyat akan mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk melaksanakan titah. Begitu indahnya pesona titah, maka banyak jelata yang bermimpi bisa bertitah.

Sebuah titah adalah bukti penguasaan baginda atas jiwa raga rakyatnya. Ketika baginda bertitah, rakyat diam mendengarkan tanpa kata. Ketika baginda bertitah, rakyat patuh tanpa banyak tanya. Ketika baginda bertitah, rakyat rela berkorban apa saja. Ketika baginda bertitah, punggawa bekerja memastikan titah dilaksanakan. Begitu kuatnya pikat kekuasaan, maka banyak jelata ingin menjelma baginda.

Sebuah titah adalah bukti kemuktian sang baginda di atas segala. Di hadapan titah baginda, tiada adi yang lebih digdaya. Di hadapan titah baginda, semua jawara menjura. Di hadapan titah baginda, hilang sudah kuasa dan perwira. Di hadapan titah baginda, cambuk dan penjara bagi yang jumawa. Begitu perkasa titah baginda, maka banyak jelata sedia bertapa bak baginda.

Maka ketika kemudian titah baginda menjadi samar untuk dimengerti apalagi dilaksanakan sedaya upaya, kemana jelata hendak berkaca? Apakah jelata harus berganti baginda dan mencari baginda baru yang sanggup memberikan titah yang bermakna? Kemanakah jelata akan menemukan baginda yang seperti itu? Berapa purnama lagi diperlukan untuk mendudukkan baginda baru di kursinya? Sekarang paman Patih tergagap tak tahu hendak apa. Punakawan bingung tersebar terpencar. Punggawa berlarian mencari perwira. Jelata, mereka merana melata-lata. Sementara para raksasa bersiap mengancam dari balik jendela!

Titahmu Baginda, janganlah abu-abu…!

Kambing Pak Umar

Siang November yang terik. Lalu lalang kendaraan yang melewati halte tanpa atap itu menyebabkan debu-debu terangkat naik dan menyebar. Beberapa orang yang berdiri di situ menutup mulut dan hidungnya untuk menepis debu. Sebagian yang lain tidak peduli. Malah membuka mulutnya untuk menimpali obrolan temannya yang sedang menceritakan sesuatu. Sementara seseorang tengah asyik mengelap sepeda motornya. Ada beberapa sepeda motor juga sedang diparkir di sana. Menunggu penumpang. Seperti di banyak tempat, halte itu adalah juga pangkalan ojek.

Dari seberang jalan, aku melambaikan tangan. Salah seorang di sana menanggapi dengan mengangkat tangannya dan kemudian berpaling ke sebuah papan. Lalu ia bangkit dan menepuk pundak temannya. Sepertinya giliran mengangkut penumpang berikutnya ada pada orang tersebut. Tubuhnya kecil dan nampak sudah tua. Kuamati ia menuntun sepeda motornya keluar dari halte dan bergerak ke arahku. Kulihat seperti ada yang salah dari caranya membawa motor, agak goyah.

Kantor Pos Juanda, Pak!” kataku padanya menyebutkan tujuan. Panggilan ‘Pak’ atasnya adalah setelah aku melihat kerut-kerut di wajah dan tangannya, pertanda usia yang telah jauh berjalan. Dari balik kaca helm yang diberikannya, aku melihat bapak pengojek ini mengangguk mengerti. Kamipun berangkat.

Baru saja jalan beberapa puluh meter aku sudah merasa tidak nyaman diboncengi. Sepeda motor berjalan tidak stabil, goyah seperti orang yang baru belajar berkendara. Kemudian karena si bapak mengambil jalan agak ke tengah padahal jalanan sedang ramai sehingga membahayakan. Lagipula gigi yang dipakai tidak sesuai dengan kecepatan kendaraan sehingga jalannya motor kadang tersendat-sendat atau malahan mesin menggerung terlalu tinggi.

Pelan kutepuk pundak si bapak, “Pak, motornya kenapa? Kok jalannya begini?” tanyaku. “Ngga’ apa-apa, Nak. Kita ke tepi dulu ya” katanya menepikan kendaraan. Keningku berkerut bertanya-tanya. Tidak apa-apa kok jalannya ngga’ benar, lalu tiba-tiba minta menepi, ada apa? Sesampainya di pinggir jalan, aku turun dari boncengan dan berdiri di samping si bapak.

Anak saja yang bawa motornya, saya di belakang saja” pinta si bapak, “saya belum biasa memakai motor ini.” Gubrak… tukang ojek kok ngga’ biasa bawa motor?! pikirku. Masa penumpang yang boncengin tukang ojeknya? Aneh banget ‘kan? Namun demi mengingat keperluan ke kantor pos dan ingin tahu bagaimana kisahnya si bapak ini, aku bersedia bertukar tempat. Lagipula kemudian aku juga memikirkan keselamatan si bapak saat kembali ke pangkalannya yang tak jauh dari kantorku yang harus melewati jalan dan perempatan yang ramai, aku berniat untuk memboncengkannya kembali. Toh tujuanku keluar kantor hari ini memang hanya ke kantor pos, tidak kemana-mana lagi.

Singkat cerita, di saat menunggu antrian pembayaran kantor pos yang cukup panjang, aku berbincang-bincang dengan pak Umar, bapak pengojek tadi. Kubelikan teh botol dingin untuknya dan sebotol air mineral untukku sendiri sebagai pelepas dahaga di siang yang terik itu.

Saya baru hari ini mengojek, Nak. Sepedanya juga dapat minjam dari tetangga sebelah.” Pak Umar berkata sambil melepas jaketnya. Kuperhatikan baju kaus yang dipakainya sudah tak jelas warnanya, mungkin dulunya hijau yang makin lama makin memudar setelah sekian tahun dipakai. Celana kain yang dipakainya juga sudah tua. Dengan sandal jepit bertali biru menghiasi kakinya, potret pak Umar yang tua, miskin dan kenyang dengan kerasnya jalan hidup yang dijalani nampak makin sempurna.

Sebelumnya bapak kerja apa?” tanyaku sambil menghela nafas, kasihan pada sosoknya, “berbahaya lho pak menjadi tukang ojek kalau bapak tidak menguasai motor dengan baik. Bapak bisa celaka di jalan raya.

Anak benar. Sebetulnya saya ini biasa jaga warung saja di rumah, dengan istri. Tapi saya sudah berniat, jadi saya akan cukupi dengan menjadi tukang ojek” pak Umar berkata sambil duduk di tembok pembatas teras kantor pos. Dari teras luar ini aku bisa melihat nomor antrian berapa yang sedang dilayani sekarang. Nomor antrianku masih lama, jadi aman-aman saja kalau kami menunggu di luar.

Niat apa, Pak?

Ya cari duit, buat nambahin beli kambing. Saya berniat qurban tahun ini, Nak.”

Kalau belum cukup ‘kan ngga’ apa-apa ngga’ ikut qurban, Pak” kataku.

“Kalau ngga’ diniatin ya begitu-begitu terus, Nak. Ngga’ bakalan pernah bisa berqurban. Tiap tahun saya menghibur diri dengan apa yang barusan Anak katakan. Sampai sekarang, ngga’ pernah terlaksana. Duit yang saya simpan-simpan setiap hari, habis saja dipakai. Buat makanlah, buat bayar sekolah anaklah, macam-macam pokoknya… Akhirnya ya tetap aja ngga’ kebeli kambing!

Terus Bapak ngojek buat beli kambing itu?

Buat tambahannya. 3 hari yang lalu Bapak sudah melihat-lihat di tempat penjualan hewan qurban, ternyata duit yang selama ini Bapak sisihin dari keuntungan warung tiap hari belum cukup. Makanya Bapak ngojek. Kebetulan tetangga Bapak ngijinin motornya dipinjam, asalkan dijaga baik-baik.” jawab Pak Umar sambil kembali menyedot teh botolnya.

Oh begitu. Maaf kalau boleh tahu, memangnya kurang berapa lagi Pak?

Dua ratus ribu lagi. Tapi susah nyari duit sebanyak itu sekarang. Apalagi waktu qurban sudah semakin dekat. Bapak tidak akan bisa berqurban lagi tahun ini…” jawabnya lirih sambil menundukkan kepala. Nampaknya ia menyesal sekali tidak akan dapat menunaikan niatnya. “Saya sudah tua, waktu saya di dunia ini mungkin tak lama lagi. Saya ingin sekali bisa berqurban. Sekali saja seumur hidup juga tak apa-apa asalkan saya pernah. Kelak nanti saya bisa jawab ketika malaikat bertanya apakah saya pernah berqurban atau tidak. Saya ingin pintu-pintu rahmat terbuka luas bagi saya dan keluarga. Saya ingin dido’akan..…” kalimat pak Umar terputus, suaranya tercekat.

Aku tercenung. Begitu besarnya keinginan pak Umar ini untuk berqurban, sampai-sampai ia siap menghadapi resiko mencari tambahan uang dengan mengojek, yang sama sekali belum pernah ia jalani.

Pada setiap tanduk, kaki atau potongan tubuhnya, akan ada pembelaan atas dosa-dosa kita, Nak. Pada setiap helai bulu hewan yang kita qurbankan, akan ada kesaksian atas keikhlasan kita. Pada tetesan darahnya akan ada pengakuan atas ketaqwaan kita. Besar sekali pahala berqurban itu, besar sekali….” Pak Umar semakin kehilangan kata-katanya.

Dan aku pun ikut kehilangan kata-kata. Untuk bersedekah biasa saja tidak terpikir olehku, apalagi berqurban. Padahal gajiku jelas-jelas cukup untuk membeli seekor kambing tanpa harus mengorbankan berbagai kebutuhanku yang lainnya. Jika diniatkan, aku bahkan sanggup berqurban sapi kalau tiap bulan uangku disisihkan selama satu tahun. Tapi tak pernah ada bersitan niat itu di pikiranku. Sungguh berbeda dengan pak Umar yang rela menyisihkan penghasilan warungnya yang sedikit itu demi bisa berqurban. Bahkan mengambil resiko menjadi tukang ojek agar dapat mencukupi kekurangannya. Benar-benar kontradiksi yang menjungkirbalikkan pemikiranku atas nilai-nilai penting dalam kehidupan dan tingkat keyakinan spiritualitas.

Sepulang mengantar pak Umar ke warungnya, mataku berkaca-kaca. Bahkan dengan kondisi rumah dan warung yang begitu sederhana, hati pak Umar bagaikan berlian yang berkilau di tengah himpitan kesulitan-kesulitan hidupnya. Ia masih mau berqurban dan memikirkan saudara-saudaranya yang lain yang lebih menderita dibandingkan untuk mencukupi dirinya sendiri. Maka apalah artinya sejumlah uang yang kuraih seasalnya dari dompetku, yang membuat tangan dan bibirnya bergetar  dan matanya berkaca-kaca itu. Masih terngiang di telingaku kata-kata pak Umar pada istrinya saat aku melangkah pergi, “Alhamdulillah buk, kita bisa berqurban tahun ini! Alhamdulillah… terima kasih ya Allah…!

Sampah Tidak Biasa

Barangkali karena sudah sedemikian seringnya terjadi dan capek mengingatkan, pemilik rumah ini membuat pengumuman besar-besar di ATAP rumahnya. Atap

(Untuk yang kurang jelas membacanya, maaf photo ini diambil hanya dengan kamera handphone dari balik kaca, di atap itu tertulis: DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. ROKOK, CD, BH, DLL).

Sepertinya cukup efektif karena pada saat gambar ini diambil tidak nampak sampah-sampah yang dimaksud di atap rumah tersebut.

Yang menggelitik adalah jenis sampah yang ditulis cukup spesifik. Banyak yang membuang  CD (celana dalam) dan BH (bra perempuan) ke atas atap tersebut ternyata! Jenis sampah yang  memang tidak biasa. Dan kenapa dibuangnya ke atap rumah? Lalu sampah apa kira-kira yang dimaksud oleh si pemilik rumah dengan DLL (dan lain-lain)? ;)

Catatan: gambar diambil dari lantai 3 hotel XXXXX  yang berlantai 12 di kota Samarinda, Kalimantan Timur akhir minggu lalu.

*Anda sudah menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas? ;) *

Kampanye Yang Tidak Indah

Saya tak tahu dengan orang lain, tapi bagi saya pemandangan seperti ini terasa mengganggu. Bukan tidak menghormati orang-orang terhormat calon wakil rakyat yang memajang gambarnya di sana, karena tak ada maksud untuk itu. Hanya saja bagi saya, jejeran gambar itu tidak indah. Sungguh tidak indah.

pamflet-caleg

Tak adakah cara berkampanye yang lebih baik dari sistem tradisional ini? Saya kok tiba-tiba membandingkan ini dengan cara kampanye kuno ala Romawi beribu tahun lalu ya? Ah, lupakan saja…

Tidak indah ya tetap tidak indah bagi saya, titik!

Note:  Gambar diambil saat melewati simpang Panbil Muka Kuning, Batam.

Pak De

Aku tak tahu nama ataupun umurnya. Biasanya kusapa ia dengan panggilan Pak De sebagai penghormatan atas usianya yang lebih tua dariku. Perkiraanku, ia sekitar 60 tahun lebih. Kerut-kerut di wajahnya mungkin mengelabui usianya yang sebenarnya, jadi angka umur yang kusebutkan bisa saja lebih kecil atau lebih besar. Yang jelas kerasnya kehidupan yang ia jalani terpatri kuat di tubuh kecilnya yang ringkih. Seolah seluruh beban hidup itu telah meluluhlantakkan semua keperkasaan masa mudanya.

Pak De bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah agensi kontraktor di wilayah Johor Bahru. Ia bekerja di lokasi dimana agensinya sedang memiliki proyek. Dimana dibutuhkan, ke sanalah ia diberangkatkan. Kalau sedang sepi kerjaan, ia tak pergi bekerja (yang berarti tak ada penghasilan). Pak De tinggal di salah satu unit apartemen milik bossnya di blok yang bersebelahan dengan blok tempat tinggalku. Satu kamar ia huni bersama beberapa orang, disewakan per bulan dengan sistem potong gaji. Setiap pagi ada bus pekerja yang datang menjemput dan mengantarkannya kembali pulang di kala malam menjelang. Transportasi ini juga dibayar dengan sistem potong gaji.

Sudah 3 tahun ia bekerja di agensi itu dengan dua kali sempat pulang ke kampung halamannya di Ponorogo, di Jawa Tengah sana. Waktu yang sudah cukup panjang, tapi tidak membuatnya lebih sejahtera dari saat ia berangkat merantau 3 tahun lalu. Ia bilang kehidupannya begitu-begitu saja, hanya cukup untuk makan. Kerja keras dengan penghasilan sedikit karena banyak potongan, begitu katanya menggambarkan.

Dari mulutnya aku mengetahui beberapa hal yang memprihatinkan. Banyak cerita sedih seputar TKI yang pernah kudengar. Cerita Pak De adalah bentuk lainnya bagaimana permainan pihak agensi dalam memeras dan menipu mereka.

Dalam pembayaran pajak levi misalnya, ia dibebani biaya 2 kali lipat. Seumpama levi satu tahun adalah RM1200 (pada kurs RM1=Rp 3000, setara dengan Rp 3.600.000), maka ia dikenai kewajiban membayar RM2400. Pada agensi atau perusahaan yang baik, levi dapat dicicil selama 1 tahun. Di agensi tempat Pak De ini, levi harus lunas dalam 6 bulan! Artinya ia dibuat bekerja 2 kali lebih keras agar dapat menyelesaikan pembayaran 2 kali lebih cepat dibandingkan orang lain!

Paspornya pernah ‘hilang’ sekali. Bukan ia yang menghilangkan, tetapi pihak agensi. Selama masa kontrak kerja dengan agensi, paspor ditahan dan disimpan oleh agensi. Tetapi pihak agensi tidak mau bertanggung jawab atas ‘kehilangan’ itu! Demi keamanan dan keselamatannya di negeri orang, ia ‘disarankan’ untuk membuat paspor baru melalui agensi. Pak De diharuskan merogoh kocek dan membayar sendiri biaya pembuatan paspor baru.

Karena memiliki paspor baru, ‘tentunya’ ia harus punya permit kerja yang baru lagi. Ia kembali harus membayar semua biaya permit, termasuk levi. Begitu agensi itu berkata. Akibatnya, ia kembali harus menanggung beban biaya 2 kali lipat itu dan kembali harus melunasi dalam waktu singkat!

Sebuah lingkaran setan pemerasan yang hanya dapat dilakukan oleh agensi berhati setara setan pemakan keringat dan darah manusia! Atas nama uang dan keserakahan, mereka melupakan kemanusiaan.

Pak De ingin bisa menabung atas jerih payahnya bekerja jauh di rantau orang. Bukan menjadi sapi perahan yang bekerja untuk agensi keparat. Ia ingin lepas dari kontrak dengan agensinya sekarang. Tapi ia tak tahu bagaimana melepaskan diri. Bahkan sampai saat terakhir kami berjumpa sebelum ia dipindahrumahkan ke lokasi yang ia sendiri belum tahu, ia hanya bisa pasrah. Saranku agar ia mengadu ke konsulat hanya ditanggapinya dengan wajah bingung, “aku iki wong bodo, Mas, ora ngerti sing koyo’ ngono“.

Hati-hati Pak De, do’aku untuk kesehatan dan keselamatanmu selalu dimanapun kau berada sekarang! Insya Allah, seperti yang pernah kau sebut, “Gusti Allah ora sare!” jalan keluar segera diberikan padamu olehNya. Dan semoga kerinduanmu untuk bisa pulang kembali ke Jawa segera terobati. Yang jelas, aku tak akan lupa padamu. Seperti aku juga tak akan lupa pada singkong segar hasil olah kebun yang engkau kerjakan di sela-sela waktu kosong, yang tak lupa selalu engkau letakkan di depan pintu rumahku setiap kali engkau memanennya. Ah ya… betapa singkong adalah perlambang tepat bagi kesederhanaanmu, Pak De.

Maggi Ala Indon

maggi-ala-indon1Rasa adalah persoalan selera. Tiap orang punya cita tersendiri. Demikian juga bangsa. Tak terkecuali pada makanan. Meski itu berupa mie istant. Bahkan pada tingkatan tertentu ia adalah identitas. Yang lekat sebagai bagian dari kehidupan anak kost, mahasiswa perantauan, pekerja kerah biru atau bahkan pada anak-anak.

Meski jauh dari kampung halaman, terkadang ia tak dapat dikompromikan. Banyak cerita kita dengar tentang orang Indonesia yang membawa perbekalan makanan ke luar negeri. Sesekali pulang tentu bukan masalah. Namun jika tiap sebentar harus pulang ke Indonesia hanya untuk sekedar menikmati makanan tentulah akan berat di sisi biaya. Di sanalah pengusaha membaca peluang dan menjadikannya mesin uang. Terciptalah antara lain produk-produk makanan, seperti mie instant berlabel Maggi ini, bercita rasa kampung halaman di negeri tetangga.

Produsen mie ini memasang tulisan ‘ala Indon’ di kemasan luarnya. Ia jelas bukan yang pertama karena produsen mie lain juga melakukan hal yang sama. Pasar yang dituju sungguh besar di negeri ini dan potensial. Jadi dipajanglah ia untuk menarik perhatian ‘orang Indon’, salah satunya di kedai runcit di ujung Johor Bahru tempat saya mengambil gambar.

maggi-ala-indon2

Terserah Anda untuk memilih dan mencicipi, apakah betul rasanya sama dengan mie instant favorit Anda di Indonesia ataukah tidak. Kalau saya, sampai sekarang masih memilih untuk menggotong satu kotak mie setiap kali saya mampir ke Batam.

Ya, rasa memang soal selera. Dan selera saya masih terikat pada yang asli dari negeri sendiri, bukan pada yang ‘ala Indon’.

Panggilan Illahi

panggilan1

Sungguh benar ajakan menonaktifkan telepon genggam di masjid ini. Tulisannya bukan sebuah larangan untuk mengunakan atau saran untuk mematikan nada panggil seperti biasa kita jumpai di masjid-masjid lain. Yang ini sangat menyentuh bagi saya.

Sungguh benar, tiada panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah! Bukan deringan telepon atau tanda pesan masuk yang harus didengar/mendapatkan perhatian kita di kala shalat dan beribadah. Sekecil apapun suara yang timbul atau getaran yang dihasilkan, jelas itu akan memecah konsentrasi ibadah dan kekhusu’an shalat kita.

Jadi, mari matikan handphone Anda di dalam masjid. Sepenting apapun Anda dan urusan di luar sana, panggilan Allah adalah yang paling utama.

Photo diambil di Masjid Jamek Ungku Tun Aminah di Johor Bahru.

vietnam-aff-2008My Dinh National Stadium di kota Hanoi serasa meledak dan penuh gegap gempita oleh teriakan kegembiraan para pendukung kesebelasan nasional Vietnam tadi malam setelah Le Cong Vinh berhasil membelokkan arah bola tendangan bebas yang dilakukan oleh Nguyen Minh Phuong dan menjadikannya sebuah gol. Gol tersebut menyamakan kedudukan pertandingan menjadi 1-1 melawan kesebelasan nasional Thailand yang berarti membuat agregat 2 kali pertandingan menjadi 3-2 untuk kemenangan Vietnam. Sebuah sejarah sepakbola baru tercipta bagi Vietnam, berhasil menjuarai turnamen AFF Cup 2008 setelah dalam 6 kali penyelenggaraan sebelumnya dikuasai secara bergiliran oleh Thailand dan Singapura.

Yang begitu terasa istimewa dari gol tersebut adalah bahwa ia tercipta di menit terakhir injury time pertandingan. Sungguh wajar stadion My Dinh meledak oleh kegembiraan setelah puluhan ribu supporter Vietnam bersabar menunggu terciptanya gol tersebut sejak menit awal. Berulangkali serangan balik mereka mengancam gawang Thailand, terutama di babak kedua, namun tidak berhasil menciptakan gol.

Vietnam bermain dengan determinasi tinggi, penuh semangat, saling membahu, konsisten dengan pola yang diterapkan pelatih Henrique Calisto, serta tajam dan cepat menusuk (terutama dari sayap kanan) yang didukung oleh seluruh lini. Inilah yang membuat mereka dapat mengimbangi permainan cantik dan kemampuan individu kesebelasan Thailand yang di atas kertas lebih baik dari Vietnam.

Vietnam pantas untuk menjuarai turnamen AFF Cup ini. Grafik penampilan mereka yang dicermati sejak dari babak penyisihan grup terus meningkat. Vietnam muncul sebagai runner up grup di bawah Thailand. Kemudian di kandang sendiri menahan imbang Singapura dengan hasil seri 0-0. Dilanjutkan dengan membungkam The Lion di Singapura pada leg kedua 1-0 untuk memastikan posisi maju ke babak final. Selanjutnya, mereka tanpa ampun menaklukkan tim Gajah Putih di Thailand dengan skor 2-1 pada leg pertama final.

Photo diambil dari sini.

Tahun Baru 1430H

Hari ini adalah tanggal 1 Muharram 1430H pada penanggalan Islam. Bagi umat Islam yang merayakan: Selamat Tahun Baru Hijriah 1430H!!

Seperti saya tulis di sini, ini adalah perayaan tahun baru Hijriah kedua kalinya di dalam sebuah tahun Masehi (1 Muharram 1429H jatuh pada 10 Januari 2008 dan 1 Muharram 1430H jatuh hari ini 29 Desember 2008)! Sebuah peristiwa yang hanya akan terulang dalam siklus waktu 33 atau 34 tahun sekali! Jika Anda berumur panjang, maka paling banyak Anda hanya akan dapat menemui 3 kali peristiwa seperti ini seumur hidup Anda. Sangat jarang terjadi dan istimewa sekali.

Berarti, sebuah tahun baru yang layak untuk dirayakan, bukan?

Sekali lagi, selamat tahun baru Hijriah!

Muon Nam, Vietnam!

Saat bus pekerja sampai di kilang pagi tadi, ada hal menarik saat melihat gadis-gadis operator berkebangsaan Vietnam turun dari bus. Hampir semua mereka mengenakan pakaian berwarna atasan putih dan bawahan hitam. Ada yang hanya berkaos putih tapi ada juga yang nampak lebih resmi mengenakan Áo Dài (pakaian tradisional semacam baju kurung ala Vietnam). Dan hampir semuanya juga menempelkan bendera kebangsaan di dada kiri atau di kerah kiri bajunya. Setelah kutanya pada salah seorang dari mereka, ternyata hari ini adalah Qouc Khanh (Hari Kemerdekaan) negara Republik Sosialis Vietnam.

Pekerja Vietnam adalah bagian terbesar dari pekerja asing di pabrik kami. Beberapa diantaranya sudah bekerja lebih dari 3 tahun di Malaysia (sejak dari pabrik Cemerlang, Ulu Tiram-JB). Tipe pekerja keras (selalu siap untuk bekerja lembur), santun, fokus dan cepat dalam melakukan pekerjaan, meski juga tidak selalu menurut pada instruksi yang diberikan (yang bisa disebabkan oleh kendala bahasa). Jika sudah sering berkomunikasi dengan mereka, pertemanan bisa sangat baik dan akrab, meski pada awalnya mereka terkesan tertutup. Tak segan-segan mereka akan menyapa, meski jenjang jabatan terentang cukup jauh. Untuk yang sering bergaul dengan mereka, tipikal wajahnya yang khas tak akan disalahkira dengan warga dari semenanjung Indocina lainnya.

Hari ini ada hembusan solidaritas yang berbeda muncul di pabrik yang mengatapi 7 kewarganegaraan ini. Banyak pekerja asing dari negara lain, seperti Nepal, Indonesia, Philipina, dan Singapore serta warga lokal Malaysia sendiri yang ikut menempelkan bendera Vietnam di dadanya. Padahal saat Singapore merayakan hari kemerdekaan pada 9 Agustus, Indonesia pada 17 Agustus dan Malaysia pada 31 Agustus, solidaritas yang sama tidak muncul. Hanya warga dari masing-masing negaralah yang menempelkan bendera kebangsaannya di pakaian kerja. Bahkan tak kulihat ada pekerja/staf berkebangsaan Singapore yang menunjukkan patriotisme seperti itu saat hari kemerdekaan mereka pada 9 Agustus lalu. Tapi hari ini berbeda, dukungan solidaritas nampak ditunjukkan oleh semua. Dan ini membuat wajah-wajah para pekerja Vietnam penuh senyum dan ramah hari ini!

Muon nam, Vietnam!

Selamat hari kemerdekaan.

Older Posts »